Monday, May 03, 2021

"Aku Memaafkanmu"



Jangan mengharapkan sesuatu yang indah saat jatuh cinta, tapi sibuklah mempersiapkan hatimu untuk menghadapi seribu satu hal yang menyakitkan. - Buku Dear Heart, Why Him?
Di sepanjang hidup, kita pasti pernah mengalami jatuh cinta dan putus cinta. Kita pasti sering bertemu dengan orang yang masuk ke dalam lingkar kehidupan kita, namun kemudian orang tersebut pergi hingga membuat kita mengalami pasang-surut emosional secara dramatis di luar dugaan kita. Rasanya semua yang awalnya terasa bahagia kian lama menjadi terasa menyakitkan. Kok drama banget ya? Yah begitulah kalau berurusan dengan hati.

Cinta memang salah satu anugerah Allah, tapi seringkali kita terlalu berlebihan terhadapnya. Kita terlalu terbawa perasaan hingga tanpa sadar kita sudah terbang terlalu tinggi yang lama-lama kita akan terjatuh. Sakit? Sudah pasti. Tapi di saat itulah, akhirnya kita sadar bahwa cinta yang terbaik adalah cinta kepada Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Dialah yang seharusnya patut kita beri cinta yang besar. Dialah yang patut kita beri perhatian yang luar biasa. Namun pertanyaannya, sudahkah kita mencintaiNya sedalam itu?

Entah sudah berapa kali saya mengalami momen yang namanya jatuh cinta. Sejak SMP, saya sudah punya gebetan. Cinta monyet saya kala itu adalah seorang kakak kelas yang juga menjabat sebagai Ketua OSIS. Saya tidak pernah membayangkan kalau saya disukai oleh salah satu orang yang terkenal di sekolah dan setiap hari dihujani 'salam' darinya, meski saya pikir dia tidak cukup gentle karena tidak menyampaikan langsung kepada saya, melainkan melalui abang penjual es kelapa :) Yah namanya juga masih ABG cupu, kalau diingat memang lucu sendiri. Apalagi kalau ingat momen saat saya nangis bombai karena secara tidak sengaja menolak cintanya. Siapa sih saya kok berani menolak cinta seorang Ketua OSIS? Saya memang benar-benar masih sangat polos. 

Sejak saat itu, ternyata perjalanan jatuh cinta saya tidak selalu mulus. Banyak tanjakan terjal yang sering saya lewati. Ketika di bangku SMA dan kuliah, saya benar-benar "virgin" alias tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Bahkan teman kuliah saya kala itu pernah bilang kalau saya itu mahasiswa 'kupu-kupu'. Kerjanya cuma kuliah lalu langsung pulang (ke kosan). Iya benar. Waktu kuliah saya memang cuma berani jadi secret admirer ke seorang senior yang beda jurusan. Dia duduk di kelas ekstensi pada waktu itu. Tapi ya ada juga yang secret admirer ke saya, tapi sayangnya saya tidak tertarik karena dia adalah junior saya. Pada saat itu, pria dengan usia lebih muda memang bukan tipe saya. Ribet banget ya jadi cewek itu? Ya begitulah, momen 'suka-sukaan' saya jaman sekolah. Seru. Kalau dijadikan sebuah buku, pasti pembaca akan senang membacanya. 

Sampai akhirnya saat bekerja, semuanya terasa berbeda. Saya memandang cinta lebih kepada hubungan yang serius. Maklum saja, sejak kuliah S1, saya memang punya impian menikah di usia 25 tahun. Tapi setelah mulai masuk ke dunia kerja di usia 22 tahun dan memutuskan untuk lanjut kuliah S2 2 tahun kemudian, impian itu berangsur-angsur pupus. Sampai saat saya berusia tepat 25 tahun ketika hendak mempersiapkan sekolah ke Australia, saya menyadari bahwa mungkin pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Saya benar-benar hampir mengalami quarter life crisis. Hanya saja, alhamdulillah saya tidak pernah menyesali keadaan itu (sampai sekarang), meskipun pernah tercetus dalam benak saya bahwa mungkin saja saya bisa bertemu dengan jodoh saya saat sekolah S2. Tapi pada kenyataannya sekali lagi hasilnya nihil dan justru hubungan percintaan saya kerap kali berakhir dengan hubungan friendzone. Ngenes memang, tapi begitulah cinta dari dulu, deritanya tiada akhir. Itu kata Pat Kai ya, bukan kata saya.


Jadi kalau diingat lagi sudah berapa kali saya merasakan jatuh cinta, terus terang saya lupa. Saya bahkan tidak yakin apakah memang saya benar-benar jatuh cinta pada saat itu. Yang selalu saya ingat hanyalah bagaimana ending di setiap cerita yang belum juga berakhir indah. Bahkan saya harus mengalami luka yang cukup dalam di tahun 2019 silam saat saya batal menikah dengan seorang pria yang bahkan sudah melamar saya di depan orang tua. Ah, sedih banget rasanya waktu itu. Padahal waktu itu, gedung, catering sampai busana pengantin sudah terlanjur dipesan. Saya bahkan nyaris tidak sanggup melihat seserahan yang sudah selesai dihias. Tapi kejadian itu ternyata tidak membuat saya benar-benar trauma, hingga lika-liku kisah percintaan saya yang terakhirlah yang akhirnya kini membuat saya sejenak berhenti memikirkan tentang cinta dan pernikahan. I quit for a while.

Dalam kisah terakhir ini, saya sebenarnya dari awal sadar bahwa pria ini bukanlah tipe saya. Tapi entah kenapa saya selalu mencoba berbicara pada Tuhan dalam doa bahwa meskipun ada beberapa hal yang tidak saya sukai darinya, tapi saya tetap ingin mengenalnya. Mungkin saja ada banyak hal baik dari sosoknya yang belum tersingkap dan seiring waktu itu akan saya ketahui. Namun, selama 6 bulan kenal, saya justru semakin tidak mengenalnya dan Allah semakin menjauhkan saya darinya. Dari awal, dia mungkin tidak benar-benar berniat serius. 

Perasaan sedih pun kembali datang. Saya menyesali keputusan saya saat itu untuk tetap ingin mengenalnya. Saya menyesal karena tidak bisa bersikap tegas dari awal. Saya telah membiarkan diri saya kembali jatuh dalam harapan dan keyakinan yang semu bahwa ketika seorang pria sudah memperkenalkan wanita yang dekat dengannya kepada teman-teman terdekat dan seluruh keluarganya, maka sudah pasti pria itu berniat serius dengannya. Saya merasa sangat bodoh karena mungkin saya sudah dimanfaatkan. Meskipun pikiran itu sering saya tepis. 

Setelah 1 bulan tidak berkomunikasi lagi dengan pria itu, ternyata saya masih memiliki perasaan yang mengganjal. Saya bahkan masih kerap menangis selepas sholat yang membuat saya terlihat seperti orang yang tengah mengalami depresi. I was really broke. Tapi anehnya tangisan saya ini bukan karena saya membencinya - saya mungkin tidak akan pernah bisa membencinya. Saya justru membenci diri saya sendiri. 

Hingga rasa percaya saya pada pria pun tiba-tiba ikut hilang. Pertanyaan-pertanyaan ini kerap ada di benak saya:

"Seperti apa pria yang serius (ingin menikahi) itu?"

"Mengapa pria yang dekat dengan saya pada akhirnya akan menjauh dan pergi meninggalkan saya?"

"Adakah pria yang benar-benar sayang sama saya?"

"Adakah pria yang benar-benar berjuang untuk saya?"

***

Kini saya mencoba untuk bangkit (lagi). Ternyata satu-satunya obat penawar segala luka di hati saya ini adalah dengan cara mendekat kepadaNya. Saya nyatanya adalah wanita yang lemah. Mungkin dari dulu saya terlalu bersandar pada anugerahNya, yakni cinta yang saya miliki. Meskipun saya sering meminta petunjuk kepadaNya lewat sholat Istikharah, tapi mungkin hati saya sering berpaling dariNya. Saya bahkan mungkin kerap membuatNya cemburu. 


Memiliki pasangan bukanlah segala-galanya, tapi belum memiliki pasangan pun bukanlah akhir dari segala-galanya. Mungkin saat ini yang terpenting buat saya adalah terus berjalan ke depan menjalani hidup sesuai alur cerita yang telah disusun dengan sangat apik oleh Tuhan. Saya hanya bisa memasrahkan diri saya dengan apapun yang telah Tuhan putuskan untuk hidup saya, karena kini saya merasa yakin bahwa mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saya. Saya tidak tahu ke depan hidup saya akan seperti apa. Saya tidak akan berharap apa-apa lagi, kecuali kebaikan dari Allah. Saya tidak akan lagi fokus pada nikmatNya yang belum saya dapatkan, tapi saya akan fokus pada nikmatNya yang telah diberikan ke saya. Bismillah. Semoga Allah meridhoi semua.
Wahai diriku, kini aku memaafkanmu. Aku memaafkan kelemahanmu atas segala perasaan kasih sayang yang pernah dengan mudahnya kamu berikan pada pria yang padahal dia belum tentu adalah jodohmu. Aku memaafkan kelemahanmu karena meletakkan cinta yang belum halal di hatimu. Aku memaafkanmu hanya demi kenyamananmu, ketenangan di hatimu, kemudahan jalanmu, dan agar tiada lagi beban yang memberatkan langkahmu untuk beranjak maju. Jika berlari hanya akan membuatmu lelah, maka mari berjalan dengan lebih tenang, sabar dan bijaksana. Jika dengan usaha kerasmu kamu merasa sia-sia, maka mari beristirahat sejenak dan pasrahkan semua padaNya.
Monday, January 25, 2021

Pelajaran Berharga dari Film Julie and Julia



Assalamu'alaikum.

Ada yang pernah menonton film Julie and Julia? Bagi yang punya hobi memasak pasti akan suka dengan film yang dirilis tahun 2009 ini. Meskipun sudah dirilis lebih dari 10 tahun lalu, tapi film ini masih bisa ditonton di HBO atau Netflix. Terus, apa yang seru dan menarik dari film ini?

Sinopsis Singkat


Bicara tentang Julie and Julia, film ini ternyata merupakan sebuah kisah nyata, yang menceritakan tentang kehidupan seorang istri diplomat bernama Julia Child dan seorang blogger bernama Julie Powell yang sama-sama memiliki kecintaan terhadap dunia kuliner. Mereka hidup di dua masa yang berbeda - Julia di tahun 1950-an dan Julie di tahun 2000-an. 

Diperankan oleh Meryl Streep, Julia Child adalah seorang warga negara Amerika Serikat yang memulai karir memasaknya pada 1949 di kota Paris setelah mengikuti suaminya, Paul Child (Stanley Tucci) yang merupakan seorang diplomat. Untuk mengisi waktunya selama di Paris, Julia mengambil sebuah kursus masak bernama Le Cordon Bleu dan belajar memasak dengan beberapa siswa yang didominasi oleh laki-laki. Resep-resep yang dia pelajari selama kursus dan kesehariaannya dalam belajar memasak, dia ceritakan kepada suami dan salah seorang editor buku di Amerika Serikat, Avis Devoto. Berkat bantuan Avis, Julia akhirnya berhasil menerbitkan buku masakan Perancis berbahasa Inggris pertamanya di tahun 1961.

     

Sementara Julie Powell, yang diperankan oleh Amy Adams, bekerja sebagai call-center yang kerap dilanda kebosanan terhadap pekerjaannya dan merasa iri dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu sukses. Dia kemudian terinspirasi oleh Julia Child dan terobsesi untuk melakukan hal yang disukainya yaitu memasak. Pada 2002, dia memutuskan untuk menekuni hobi barunya sebagai seorang penulis blog dan mengikuti obsesinya tersebut dengan memasak 524 resep yang ditulis oleh Julia Child dalam buku berjudul "Mastering The Art of French Cooking" selama kurun waktu 1 tahun. Ide menulis blog pun datang dari sang suami, Eric (Chris Messina). Awalnya Julie merasa pesimis dengan usahanya tersebut. Ketika dia mulai menulis, tidak ada seorang pun yang membaca blognya kecuali ibunya sendiri. Dia juga sering gagal dalam mencoba beberapa resep yang ada di buku Julia, bahkan yang lebih sedih lagi, blognya tidak ditanggapi dengan baik oleh Julia sendiri - orang yang notabene sangat dia kagumi. Meskipun begitu, dia tidak putus asa dan akhirnya berhasil menerbitkan bukunya di tahun 2005 dengan judul yang sama dengan filmnya, "Julie and Julia". 


Lantas, apa yang menghubungkan keduanya?


Meskipun film ini menyuguhkan kisah dua orang yang berbeda generasi tapi sebenarnya mereka memiliki beberapa kesamaan, termasuk pengalaman hidup mereka, yang tentunya bisa kita ambil pelajarannya. 

#1 Keduanya sama-sama mengejar passion yang mereka cintai


Baik Julie maupun Julia, keduanya jelas-jelas gemar memasak. Julie yang adalah seorang pekerja kantoran dengan pekerjaan monoton menemukan kebahagiaannya saat kembali ke rumah dan memasak di dapur untuk sang suami. Begitu pula dengan Julia yang senang mengeksplorasi makanan di rumah, rela membayar mahal untuk bisa mengikuti kursus masak makanan Perancis. Keduanya memiliki passion terhadap dunia kuliner dan berusaha mengejar passion tersebut meskipun dengan cara yang berbeda. Julie akhirnya mampu menulis blog tentang pengalamannya mencoba resep yang ditulis oleh Julia, sedangkan Julia akhirnya mampu menerbitkan buku resep masakan Perancis dalam bahasa Inggris agar bisa dibaca orang-orang yang tidak mampu berbahasa Perancis. Wah keduanya memang keren ya. Kalau kamu sendiri punya passion apa nih teman-teman? Adakah passion kalian juga dunia kuliner?

sumber: tumblr.com
 


#2 Keduanya tidak menyerah terhadap kegagalan


Seringkali pengalaman hidup orang sukses mengajarkan kita bahwa sebuah keberhasilan akan dicapai setelah kita bertemu dengan banyak kegagalan. Ketika mengejar passion-nya, Julia dan Julie sama-sama pernah gagal dan hampir putus asa. Dalam film diceritakan bagaimana kisah Julia melewati masa-masa sulit saat mengalami penolakan dari penerbit tentang bukunya. Julie pun sempat putus asa saat berkali-kali gagal dalam mencoba resep Julia, seperti saat Julie takut setengah mati merebus udang lobster atau ketika dia gagal memasak Boeuf Bourguignon atau semur daging sapi yang berujung masakannya hangus. Meskipun begitu, mereka berdua tetap gigih mengejar impian mereka masing-masing. Duh, habis ini aku jadi beneran semangat deh buat bikin dapur makin ngebul, eh, hehehe.

sumber: tumblr.com


sumber: tumblr.com


#3 Keduanya memiliki pasangan yang suportif


Kamu masih ingat tidak pepatah yang mengatakan bahwa "di balik pria sukses ada wanita hebat di sampingnya". Ternyata film ini membuktikan bahwa pepatah tersebut bisa berlaku sebaliknya lho. Baik Julie maupun Julia tergolong wanita yang beruntung karena sama-sama memiliki pasangan yang sangat suportif dan mendukung passion mereka. Paul Child, suami dari Julia bahkan mengatakan bahwa buku yang ditulis oleh istrinya suatu saat akan bisa mengubah dunia. Hal itu ternyata dibuktikan dalam kisah Julie yang memang hidupnya berubah 180 derajat saat dia memutuskan untuk mencoba resep di dalam buku yang ditulis oleh Julia. Julie pun memiliki suami yang sangat memahami dirinya dan mencoba membantunya keluar dari kebosanan dalam pekerjaan dengan memberi ide untuk menulis blog. Duh, siapa yang tidak ingin punya suami yang penyayang dan suportif seperti mereka? Aku juga mau!

sumber: tumblr.com


sumber: tumblr.com



#4 Keduanya belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaikinya


Konflik akan selalu ada dalam film apapun. Film "Julie dan Julia" juga memperlihatkan intrik rumah tangga yang dialami oleh Julie dan Julia dengan pasangan mereka masing-masing. Julia sempat diceritakan mengalami konflik kecil dengan suami saat suami harus dari Paris ke Marseilles karena masa tugasnya di kota tersebut telah selesai, padahal Julia sudah merasa nyaman dengan rutinitasnya menulis buku tentang masakan, sedangkan Julie dan pasangannya mengalami pertengkaran hebat karena sang suami merasa Julie terlalu memprioritaskan blognya daripada pernikahannya. Pertengkaran itu membuat Eric, suami Julie, pergi dari rumah. Pada akhirnya, Julie merasa sangat menyesal dengan sikapnya dan berusaha untuk membuat Eric memaafkannya dan kembali ke rumah. Dari film ini kita jadi bisa belajar untuk tidak egois terhadap pasangan dan untuk berusaha menyeimbangkan keluarga dan karir. Apalagi jika pasangan kita adalah orang yang selalu mendukung usaha kita. Bukankah itu sebuah berkah yang amat berharga?

sumber: tumblr.com

***

Jadi, apakah film ini wajib ditonton? Wajib banget (menurutku)! Film ini memang benar-benar menginspirasi, apalagi dari kisah mereka kita jadi belajar untuk lebih memberikan perhatian dan konsisten pada apa yang benar-benar kita sukai, meskipun terkadang ada pengorbanan yang harus dibayar. Tapi percayalah, di balik semua kegagalan dan pengorbanan yang kita alami, insya Allah kita akan sampai pada apa yang ingin kita capai tersebut. Asalkan kita juga dapat mengontrol emosi kita saat kegagalan tiba-tiba menghampiri, dan tetap terus berusaha.

Sampai sini, ada yang jadi lebih bersemangat untuk belajar memasak menggapai impian? Jika iya, semangat ya! You're half way there! ­čśÇ

Salam hangat,

Anissa Rizkianti ♥