Monday, May 03, 2021

"Aku Memaafkanmu"



Jangan mengharapkan sesuatu yang indah saat jatuh cinta, tapi sibuklah mempersiapkan hatimu untuk menghadapi seribu satu hal yang menyakitkan. - Buku Dear Heart, Why Him?
Di sepanjang hidup, kita pasti pernah mengalami jatuh cinta dan putus cinta. Kita pasti sering bertemu dengan orang yang masuk ke dalam lingkar kehidupan kita, namun kemudian orang tersebut pergi hingga membuat kita mengalami pasang-surut emosional secara dramatis di luar dugaan kita. Rasanya semua yang awalnya terasa bahagia kian lama menjadi terasa menyakitkan. Kok drama banget ya? Yah begitulah kalau berurusan dengan hati.

Cinta memang salah satu anugerah Allah, tapi seringkali kita terlalu berlebihan terhadapnya. Kita terlalu terbawa perasaan hingga tanpa sadar kita sudah terbang terlalu tinggi yang lama-lama kita akan terjatuh. Sakit? Sudah pasti. Tapi di saat itulah, akhirnya kita sadar bahwa cinta yang terbaik adalah cinta kepada Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Dialah yang seharusnya patut kita beri cinta yang besar. Dialah yang patut kita beri perhatian yang luar biasa. Namun pertanyaannya, sudahkah kita mencintaiNya sedalam itu?

Entah sudah berapa kali saya mengalami momen yang namanya jatuh cinta. Sejak SMP, saya sudah punya gebetan. Cinta monyet saya kala itu adalah seorang kakak kelas yang juga menjabat sebagai Ketua OSIS. Saya tidak pernah membayangkan kalau saya disukai oleh salah satu orang yang terkenal di sekolah dan setiap hari dihujani 'salam' darinya, meski saya pikir dia tidak cukup gentle karena tidak menyampaikan langsung kepada saya, melainkan melalui abang penjual es kelapa :) Yah namanya juga masih ABG cupu, kalau diingat memang lucu sendiri. Apalagi kalau ingat momen saat saya nangis bombai karena secara tidak sengaja menolak cintanya. Siapa sih saya kok berani menolak cinta seorang Ketua OSIS? Saya memang benar-benar masih sangat polos. 

Sejak saat itu, ternyata perjalanan jatuh cinta saya tidak selalu mulus. Banyak tanjakan terjal yang sering saya lewati. Ketika di bangku SMA dan kuliah, saya benar-benar "virgin" alias tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Bahkan teman kuliah saya kala itu pernah bilang kalau saya itu mahasiswa 'kupu-kupu'. Kerjanya cuma kuliah lalu langsung pulang (ke kosan). Iya benar. Waktu kuliah saya memang cuma berani jadi secret admirer ke seorang senior yang beda jurusan. Dia duduk di kelas ekstensi pada waktu itu. Tapi ya ada juga yang secret admirer ke saya, tapi sayangnya saya tidak tertarik karena dia adalah junior saya. Pada saat itu, pria dengan usia lebih muda memang bukan tipe saya. Ribet banget ya jadi cewek itu? Ya begitulah, momen 'suka-sukaan' saya jaman sekolah. Seru. Kalau dijadikan sebuah buku, pasti pembaca akan senang membacanya. 

Sampai akhirnya saat bekerja, semuanya terasa berbeda. Saya memandang cinta lebih kepada hubungan yang serius. Maklum saja, sejak kuliah S1, saya memang punya impian menikah di usia 25 tahun. Tapi setelah mulai masuk ke dunia kerja di usia 22 tahun dan memutuskan untuk lanjut kuliah S2 2 tahun kemudian, impian itu berangsur-angsur pupus. Sampai saat saya berusia tepat 25 tahun ketika hendak mempersiapkan sekolah ke Australia, saya menyadari bahwa mungkin pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Saya benar-benar hampir mengalami quarter life crisis. Hanya saja, alhamdulillah saya tidak pernah menyesali keadaan itu (sampai sekarang), meskipun pernah tercetus dalam benak saya bahwa mungkin saja saya bisa bertemu dengan jodoh saya saat sekolah S2. Tapi pada kenyataannya sekali lagi hasilnya nihil dan justru hubungan percintaan saya kerap kali berakhir dengan hubungan friendzone. Ngenes memang, tapi begitulah cinta dari dulu, deritanya tiada akhir. Itu kata Pat Kai ya, bukan kata saya.


Jadi kalau diingat lagi sudah berapa kali saya merasakan jatuh cinta, terus terang saya lupa. Saya bahkan tidak yakin apakah memang saya benar-benar jatuh cinta pada saat itu. Yang selalu saya ingat hanyalah bagaimana ending di setiap cerita yang belum juga berakhir indah. Bahkan saya harus mengalami luka yang cukup dalam di tahun 2019 silam saat saya batal menikah dengan seorang pria yang bahkan sudah melamar saya di depan orang tua. Ah, sedih banget rasanya waktu itu. Padahal waktu itu, gedung, catering sampai busana pengantin sudah terlanjur dipesan. Saya bahkan nyaris tidak sanggup melihat seserahan yang sudah selesai dihias. Tapi kejadian itu ternyata tidak membuat saya benar-benar trauma, hingga lika-liku kisah percintaan saya yang terakhirlah yang akhirnya kini membuat saya sejenak berhenti memikirkan tentang cinta dan pernikahan. I quit for a while.

Dalam kisah terakhir ini, saya sebenarnya dari awal sadar bahwa pria ini bukanlah tipe saya. Tapi entah kenapa saya selalu mencoba berbicara pada Tuhan dalam doa bahwa meskipun ada beberapa hal yang tidak saya sukai darinya, tapi saya tetap ingin mengenalnya. Mungkin saja ada banyak hal baik dari sosoknya yang belum tersingkap dan seiring waktu itu akan saya ketahui. Namun, selama 6 bulan kenal, saya justru semakin tidak mengenalnya dan Allah semakin menjauhkan saya darinya. Dari awal, dia mungkin tidak benar-benar berniat serius. 

Perasaan sedih pun kembali datang. Saya menyesali keputusan saya saat itu untuk tetap ingin mengenalnya. Saya menyesal karena tidak bisa bersikap tegas dari awal. Saya telah membiarkan diri saya kembali jatuh dalam harapan dan keyakinan yang semu bahwa ketika seorang pria sudah memperkenalkan wanita yang dekat dengannya kepada teman-teman terdekat dan seluruh keluarganya, maka sudah pasti pria itu berniat serius dengannya. Saya merasa sangat bodoh karena mungkin saya sudah dimanfaatkan. Meskipun pikiran itu sering saya tepis. 

Setelah 1 bulan tidak berkomunikasi lagi dengan pria itu, ternyata saya masih memiliki perasaan yang mengganjal. Saya bahkan masih kerap menangis selepas sholat yang membuat saya terlihat seperti orang yang tengah mengalami depresi. I was really broke. Tapi anehnya tangisan saya ini bukan karena saya membencinya - saya mungkin tidak akan pernah bisa membencinya. Saya justru membenci diri saya sendiri. 

Hingga rasa percaya saya pada pria pun tiba-tiba ikut hilang. Pertanyaan-pertanyaan ini kerap ada di benak saya:

"Seperti apa pria yang serius (ingin menikahi) itu?"

"Mengapa pria yang dekat dengan saya pada akhirnya akan menjauh dan pergi meninggalkan saya?"

"Adakah pria yang benar-benar sayang sama saya?"

"Adakah pria yang benar-benar berjuang untuk saya?"

***

Kini saya mencoba untuk bangkit (lagi). Ternyata satu-satunya obat penawar segala luka di hati saya ini adalah dengan cara mendekat kepadaNya. Saya nyatanya adalah wanita yang lemah. Mungkin dari dulu saya terlalu bersandar pada anugerahNya, yakni cinta yang saya miliki. Meskipun saya sering meminta petunjuk kepadaNya lewat sholat Istikharah, tapi mungkin hati saya sering berpaling dariNya. Saya bahkan mungkin kerap membuatNya cemburu. 


Memiliki pasangan bukanlah segala-galanya, tapi belum memiliki pasangan pun bukanlah akhir dari segala-galanya. Mungkin saat ini yang terpenting buat saya adalah terus berjalan ke depan menjalani hidup sesuai alur cerita yang telah disusun dengan sangat apik oleh Tuhan. Saya hanya bisa memasrahkan diri saya dengan apapun yang telah Tuhan putuskan untuk hidup saya, karena kini saya merasa yakin bahwa mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saya. Saya tidak tahu ke depan hidup saya akan seperti apa. Saya tidak akan berharap apa-apa lagi, kecuali kebaikan dari Allah. Saya tidak akan lagi fokus pada nikmatNya yang belum saya dapatkan, tapi saya akan fokus pada nikmatNya yang telah diberikan ke saya. Bismillah. Semoga Allah meridhoi semua.
Wahai diriku, kini aku memaafkanmu. Aku memaafkan kelemahanmu atas segala perasaan kasih sayang yang pernah dengan mudahnya kamu berikan pada pria yang padahal dia belum tentu adalah jodohmu. Aku memaafkan kelemahanmu karena meletakkan cinta yang belum halal di hatimu. Aku memaafkanmu hanya demi kenyamananmu, ketenangan di hatimu, kemudahan jalanmu, dan agar tiada lagi beban yang memberatkan langkahmu untuk beranjak maju. Jika berlari hanya akan membuatmu lelah, maka mari berjalan dengan lebih tenang, sabar dan bijaksana. Jika dengan usaha kerasmu kamu merasa sia-sia, maka mari beristirahat sejenak dan pasrahkan semua padaNya.
Monday, January 25, 2021

Pelajaran Berharga dari Film Julie and Julia



Assalamu'alaikum.

Ada yang pernah menonton film Julie and Julia? Bagi yang punya hobi memasak pasti akan suka dengan film yang dirilis tahun 2009 ini. Meskipun sudah dirilis lebih dari 10 tahun lalu, tapi film ini masih bisa ditonton di HBO atau Netflix. Terus, apa yang seru dan menarik dari film ini?

Sinopsis Singkat


Bicara tentang Julie and Julia, film ini ternyata merupakan sebuah kisah nyata, yang menceritakan tentang kehidupan seorang istri diplomat bernama Julia Child dan seorang blogger bernama Julie Powell yang sama-sama memiliki kecintaan terhadap dunia kuliner. Mereka hidup di dua masa yang berbeda - Julia di tahun 1950-an dan Julie di tahun 2000-an. 

Diperankan oleh Meryl Streep, Julia Child adalah seorang warga negara Amerika Serikat yang memulai karir memasaknya pada 1949 di kota Paris setelah mengikuti suaminya, Paul Child (Stanley Tucci) yang merupakan seorang diplomat. Untuk mengisi waktunya selama di Paris, Julia mengambil sebuah kursus masak bernama Le Cordon Bleu dan belajar memasak dengan beberapa siswa yang didominasi oleh laki-laki. Resep-resep yang dia pelajari selama kursus dan kesehariaannya dalam belajar memasak, dia ceritakan kepada suami dan salah seorang editor buku di Amerika Serikat, Avis Devoto. Berkat bantuan Avis, Julia akhirnya berhasil menerbitkan buku masakan Perancis berbahasa Inggris pertamanya di tahun 1961.

     

Sementara Julie Powell, yang diperankan oleh Amy Adams, bekerja sebagai call-center yang kerap dilanda kebosanan terhadap pekerjaannya dan merasa iri dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu sukses. Dia kemudian terinspirasi oleh Julia Child dan terobsesi untuk melakukan hal yang disukainya yaitu memasak. Pada 2002, dia memutuskan untuk menekuni hobi barunya sebagai seorang penulis blog dan mengikuti obsesinya tersebut dengan memasak 524 resep yang ditulis oleh Julia Child dalam buku berjudul "Mastering The Art of French Cooking" selama kurun waktu 1 tahun. Ide menulis blog pun datang dari sang suami, Eric (Chris Messina). Awalnya Julie merasa pesimis dengan usahanya tersebut. Ketika dia mulai menulis, tidak ada seorang pun yang membaca blognya kecuali ibunya sendiri. Dia juga sering gagal dalam mencoba beberapa resep yang ada di buku Julia, bahkan yang lebih sedih lagi, blognya tidak ditanggapi dengan baik oleh Julia sendiri - orang yang notabene sangat dia kagumi. Meskipun begitu, dia tidak putus asa dan akhirnya berhasil menerbitkan bukunya di tahun 2005 dengan judul yang sama dengan filmnya, "Julie and Julia". 


Lantas, apa yang menghubungkan keduanya?


Meskipun film ini menyuguhkan kisah dua orang yang berbeda generasi tapi sebenarnya mereka memiliki beberapa kesamaan, termasuk pengalaman hidup mereka, yang tentunya bisa kita ambil pelajarannya. 

#1 Keduanya sama-sama mengejar passion yang mereka cintai


Baik Julie maupun Julia, keduanya jelas-jelas gemar memasak. Julie yang adalah seorang pekerja kantoran dengan pekerjaan monoton menemukan kebahagiaannya saat kembali ke rumah dan memasak di dapur untuk sang suami. Begitu pula dengan Julia yang senang mengeksplorasi makanan di rumah, rela membayar mahal untuk bisa mengikuti kursus masak makanan Perancis. Keduanya memiliki passion terhadap dunia kuliner dan berusaha mengejar passion tersebut meskipun dengan cara yang berbeda. Julie akhirnya mampu menulis blog tentang pengalamannya mencoba resep yang ditulis oleh Julia, sedangkan Julia akhirnya mampu menerbitkan buku resep masakan Perancis dalam bahasa Inggris agar bisa dibaca orang-orang yang tidak mampu berbahasa Perancis. Wah keduanya memang keren ya. Kalau kamu sendiri punya passion apa nih teman-teman? Adakah passion kalian juga dunia kuliner?

sumber: tumblr.com
 


#2 Keduanya tidak menyerah terhadap kegagalan


Seringkali pengalaman hidup orang sukses mengajarkan kita bahwa sebuah keberhasilan akan dicapai setelah kita bertemu dengan banyak kegagalan. Ketika mengejar passion-nya, Julia dan Julie sama-sama pernah gagal dan hampir putus asa. Dalam film diceritakan bagaimana kisah Julia melewati masa-masa sulit saat mengalami penolakan dari penerbit tentang bukunya. Julie pun sempat putus asa saat berkali-kali gagal dalam mencoba resep Julia, seperti saat Julie takut setengah mati merebus udang lobster atau ketika dia gagal memasak Boeuf Bourguignon atau semur daging sapi yang berujung masakannya hangus. Meskipun begitu, mereka berdua tetap gigih mengejar impian mereka masing-masing. Duh, habis ini aku jadi beneran semangat deh buat bikin dapur makin ngebul, eh, hehehe.

sumber: tumblr.com


sumber: tumblr.com


#3 Keduanya memiliki pasangan yang suportif


Kamu masih ingat tidak pepatah yang mengatakan bahwa "di balik pria sukses ada wanita hebat di sampingnya". Ternyata film ini membuktikan bahwa pepatah tersebut bisa berlaku sebaliknya lho. Baik Julie maupun Julia tergolong wanita yang beruntung karena sama-sama memiliki pasangan yang sangat suportif dan mendukung passion mereka. Paul Child, suami dari Julia bahkan mengatakan bahwa buku yang ditulis oleh istrinya suatu saat akan bisa mengubah dunia. Hal itu ternyata dibuktikan dalam kisah Julie yang memang hidupnya berubah 180 derajat saat dia memutuskan untuk mencoba resep di dalam buku yang ditulis oleh Julia. Julie pun memiliki suami yang sangat memahami dirinya dan mencoba membantunya keluar dari kebosanan dalam pekerjaan dengan memberi ide untuk menulis blog. Duh, siapa yang tidak ingin punya suami yang penyayang dan suportif seperti mereka? Aku juga mau!

sumber: tumblr.com


sumber: tumblr.com



#4 Keduanya belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaikinya


Konflik akan selalu ada dalam film apapun. Film "Julie dan Julia" juga memperlihatkan intrik rumah tangga yang dialami oleh Julie dan Julia dengan pasangan mereka masing-masing. Julia sempat diceritakan mengalami konflik kecil dengan suami saat suami harus dari Paris ke Marseilles karena masa tugasnya di kota tersebut telah selesai, padahal Julia sudah merasa nyaman dengan rutinitasnya menulis buku tentang masakan, sedangkan Julie dan pasangannya mengalami pertengkaran hebat karena sang suami merasa Julie terlalu memprioritaskan blognya daripada pernikahannya. Pertengkaran itu membuat Eric, suami Julie, pergi dari rumah. Pada akhirnya, Julie merasa sangat menyesal dengan sikapnya dan berusaha untuk membuat Eric memaafkannya dan kembali ke rumah. Dari film ini kita jadi bisa belajar untuk tidak egois terhadap pasangan dan untuk berusaha menyeimbangkan keluarga dan karir. Apalagi jika pasangan kita adalah orang yang selalu mendukung usaha kita. Bukankah itu sebuah berkah yang amat berharga?

sumber: tumblr.com

***

Jadi, apakah film ini wajib ditonton? Wajib banget (menurutku)! Film ini memang benar-benar menginspirasi, apalagi dari kisah mereka kita jadi belajar untuk lebih memberikan perhatian dan konsisten pada apa yang benar-benar kita sukai, meskipun terkadang ada pengorbanan yang harus dibayar. Tapi percayalah, di balik semua kegagalan dan pengorbanan yang kita alami, insya Allah kita akan sampai pada apa yang ingin kita capai tersebut. Asalkan kita juga dapat mengontrol emosi kita saat kegagalan tiba-tiba menghampiri, dan tetap terus berusaha.

Sampai sini, ada yang jadi lebih bersemangat untuk belajar memasak menggapai impian? Jika iya, semangat ya! You're half way there! ๐Ÿ˜€

Salam hangat,

Anissa Rizkianti ♥


Wednesday, November 25, 2020

Qadarullah dan Ketika Kejutan Itu Datang Tiba-tiba



Assalamu'alaikum. 

Teman-teman masih ingat nggak pengalaman saya waktu mendapat kesempatan mengikuti summer course di Belanda yang pernah saya tulis di sini? Saat itu mungkin bisa dibilang saya beruntung ya karena tiba-tiba jalan saya dipermudah untuk bisa mendaftar kursus yang dibiayai oleh Nuffic Neso, padahal kalau diingat lagi deadline-nya tinggal sehari. Tapi itulah ajaibnya bentuk sebuah hidayah - kita nggak pernah tahu bagaimana Allah kasih kita jalan menuju sesuatu yang kita harapkan. 

Qadarullah wa ma sya'a fa'ala, Allah telah menakdirkan segala sesuatu, dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki

Nah, kebetulan beberapa waktu lalu pas lagi suntuk, saya coba baca lagi buku Agar Doa Dikabulkan Allah yang ditulis oleh Bapak Manshur Abdul Hakim. Dalam buku itu, ada satu kisah tentang seorang tabi'in Muhammad bin al-Munkadir yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah. Jadi kisahnya, pas Muhammad bin al-Munkadir berjihad ke medan perang bersama pasukannya, beberapa orang pasukannya ingin sekali makan keju dan roti. Akhirnya mereka pun berdoa dan meminta agar diberikan dua makanan tersebut. Qadarullah, di perjalanan tiba-tiba mereka menemukan bungkusan berisi keju dan sebuah bejana berisi madu.
Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu - (QS. Al-Mu'min (40): 60)
Dari kisah itu saya jadi bisa memetik pesan bahwa di saat kita sudah pasrah lalu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah sambil merendahkan diri dan menunjukkan rasa butuh kita seraya memuji dan mengakui keagungan-Nya, maka Allah pun akan mengabulkan doa tersebut. Indah bukan?


Nah, setelah baca itu, saya jadi teringat kejutan yang baru-baru ini Allah kasih ke saya. Masya Allah, rasanya campur aduk deh kalau diingat lagi - ya senang, terharu, sedih.. wah rasanya gado-gado. Singkat cerita, bulan Agustus 2020 lalu alhamdulillah saya, satu orang peneliti senior dan dua orang teman peneliti junior seperti saya berhasil menerbitkan artikel di jurnal ilmiah internasional bernama Midwifery. Jurnal ini termasuk jurnal bereputasi tinggi. Maklum saja karena penerbitnya adalah Elsevier, salah satu pemain lama dan terbesar di dunia scientific journal. Artikel kami sendiri berjudul "Women's decision-making autonomy in the household and the use of maternal health services: An Indonesian case study". Oh ya, buat teman-teman yang lagi bikin skripsi, tesis atau disertasi mengenai gender dan kesehatan ibu bisa sitasi artikel kami ya *pesan sponsor

Saat diskusi bersama pakar adalah saat-saat yang mendebarkan karena bisa jadi bongkar pasang


Tiada minggu tanpa diskusi ditemani secangkir kopi, yang ternyata nggak mempan hilangkan kantuk ibu Ika ๐Ÿ˜

Butuh dua tahun buat menyusun artikel ini hingga akhirnya published. Capek? Pastinya. Artikel ini pun sudah beberapa kali 'bongkar pasang', mulai dari merubah metode, teknik analisis hingga berulang kali merubah topik dan judul. Belum lagi segudang drama di balik layar - mulai dari adu argumen sampai tangis bombai pun sempat tumpah ruah saat menyelesaikan artikel ini. Tapi saya anggap itulah proses menyatukan beberapa 'kepala' ke dalam satu tulisan, karena menyatukan berbagai ide ternyata tidaklah semudah itu Fergusso ๐Ÿ˜€

Nah, kira-kira ada yang bisa tebak nggak berapa biaya penerbitannya? $3200! Kalau dikurskan mungkin sekitar 45 juta Rupiah ya. Wow banget 'kan? He he he. Ya begitulah dunia keilmuan dan penelitian saat ini teman-teman. Kebayang 'kan beratnya seorang peneliti untuk bisa mempublikasi hasil karyanya? Mungkin harus jual tiga sepeda motor dulu baru bisa menerbitkan artikelnya di jurnal bereputasi seperti itu. Tapi saya sangat bersyukur bahwa pada akhirnya saya dan anggota penulis saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya penerbitan artikel ini karena kebetulan artikel kami dibiayai dari salah satu proyek USAID. Alhamdulillah.

Diskusi tim di saat pandemi, momen krusial saat menyelesaikan revisi berkali-kali

Sampai di sini mungkin saya sudah agak lega karena bisa sedikit demi sedikit mencicil poin atau angka kredit buat naik pangkat dua tahun ke depan, tapi qadarullah, ternyata ada kejutan lain datang. Malam minggu lalu saya tiba-tiba dikabari oleh salah satu staf kepegawaian kalau artikel saya ini memenangkan Penghargaan Artikel Ilmiah Berkualitas Tinggi Bidang Kesehatan dan Obat dari Kemenristek/BRIN. Pas dapat pesan Whatsapp tentang kabar itu saya mendadak speechless, nggak tahu mau balas apa - cuma bisa kasih emoticon nangis ๐Ÿ˜ญ Terharu banget rasanya. Nggak tahu saya habis mimpi apa malam sebelumnya karena saya nggak menyangka sama sekali kalau artikel yang baru publish Agustus kemarin terpilih untuk dapat penghargaan. Belum lagi hadiah insentifnya yang ternyata cukup besar dan bikin saya makin speechless. Alhamdulillah, saya langsung mengabari semua tim penulis saya malam itu juga dan memberi tahu soal dana insentif itu kepada mereka. 

Jujur, sejak awal saya komitmen untuk menyelesaikan artikel ini, saya nggak pernah kepikiran buat dapat sesuatu, apapun itu bentuknya. Dorongan semangat saya karena saya berharap artikel ini bisa saya cicil untuk syarat naik pangkat karena saya tahu sulitnya menerbitkan artikel internasional yang bisa bertahun-tahun lamanya, he he he. 

Jadi kembali ke konsep Qadarullah tadi, saya jadi diingatkan akan satu hal, kalau Allah sudah ridho terhadap doa atau keinginan kita, mungkin saja akan Allah mengabulkannya saat itu juga. Sekarang tergantung tugas kita untuk ikhtiar, berdoa dan tawakal, sisanya kita serahkan semua hasilnya sama Allah. Karena Allah yang tahu mana yang terbaik untuk kita. 

Oh ya, ngomong-ngomong, apa harapan terbesar kalian saat ini? Semoga pengalaman saya ini bisa memberikan semangat buat teman-teman ya ๐Ÿ˜€ Aamiin. 
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan dan diberikan-Nya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. - (QS. At-Talaq (65): 2-3)

PS: Tulisan ini saya dedikasikan untuk tim penulis saya, mba Ika Saptarini, mas Fajar Rakhmadi dan ibu Tin Afifah. Terima kasih atas dedikasi kalian dalam penyusunan artikel ini. Barakallah ya. Tulisan ini juga jadi reminder saya untuk selalu bersyukur, dan kenang-kenangan buat saya nanti, aamiin.
Saturday, July 18, 2020

Miliki Tubuh Langsing dengan Clinelle Hot Body Cream


Assalamu'alaikum. 

Halo sobat cantikku,

Memiliki tubuh langsing telah menjadi dambaan banyak perempuan. Apalagi jika dibarengi dengan tubuh yang bebas selulit. Perempuan mana yang nggak happy, kan? Tentunya untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal perlu effort tertentu, salah satunya dengan melakukan olahraga secara rutin. Nah, agar hasil yang didapat menjadi maksimal, ternyata kita perlu menggunakan produk tambahan salah satunya adalah Clinelle Hot Body Cream

Beberapa hari lalu saya berkesempatan mencoba produk yang dikeluarkan oleh Clinelle Indonesia ini. Pas pertama kali terima produknya, terus terang saya senang banget karena selama sebulan ini saya memang sedang berusaha menurunkan berat badan dengan lebih rutin berolahraga. Clinelle Hot Body Cream ini ternyata membantu mempercepat pembakaran lemak di dalam tubuh saya. Penasaran sama fungsi produk ini? Yuk, aku jelasin.

Tentang Clinelle Hot Body Cream


Clinelle Hot Body Cream adalah krim pembentuk tubuh yang memiliki kandungan Organic Brown Algae. Bahan ini banyak sekali manfaatnya, antara lain:
  1. Mengencangkan area lengan, lingkar pinggang dan paha
  2. Membentuk tubuh
  3. Menyamarkan selulit dan meningkatkan elastisitas kulit 
  4. Melembabkan dan mencerahkan kulit


Tak perlu khawatir dengan bahan-bahan lain yang terkandung di dalam Clinelle Hot Body Cream karena produk Clinelle insya Allah aman dan bebas dari 7 zat yang nggak baik buat tubuh
7 No's: No artificial fragrance (tanpa pewangi buatan), no artificial colors (tanpa pewarna buatan), no comedogenic (tidak menyebabkan komedo), no mineral oil (tanpa minyak mineral), no SD alcohol, no lanolindan no paraben

Packaging


Untuk kemasannya sendiri, produk ini berbentuk tube berwarna oranye yang tersedia dalam 2 ukuran, yaitu 80 ml dan 170 ml. Jadi krim ini juga bisa kalian bawa pas travelling karena memiliki ukuran lebih kecil yang menurutku cukup praktis. Nah, yang menarik dari Clinelle Hot Body Cream adalah produk ini dilengkapi aplikator pemijat dengan 5 roller ball yang terbuat dari stainless steel, lho. Roller ball ini berfungsi untuk memijat bagian tubuh yang telah diberi krim. 


Tekstur dan Aroma


Menurut saya, tekstur krimnya tidak terlalu kental tapi juga tidak terlalu cair. Aromanya cenderung terlalu wangi, kalau buat saya.


How to Use


Cara mengaplikasikan Clinelle Hot Body Cream sebenarnya mudah saja kok. Cukup tekan tube untuk mengeluarkan krim lalu oleskan secara merata ke area tubuh yang dikehendaki sambil dipijat dengan gerakan memutar dan linear (atas ke bawah) selama kurang lebih 5 menit. Setelah dipijat, kulit akan merasakan sensasi hangat yang lama kelamaan jadi sedikit agak panas. Tapi tenang, panasnya nggak kebangetan dan ini justru yang akan mempercepat proses body shaping kamu. Agar hasil yang didapat juga lebih maksimal, produk ini digunakan selama 2 kali sehari, pagi dan malam hari sebelum tidur. Oh ya, khusus untuk tube berukuran 80 ml, kamu harus memutar terlebih dahulu aplikatornya dari posisi OFF ke arah ON agar bisa mengeluarkan krimnya. Petunjuknya juga bisa kamu lihat pada stiker yang ada di tutup botol.




My Honest Review


Jadi setelah 1 minggu mencoba produk ini di bagian lengan, I can say that it really worked on me. Awalnya saya nggak terlalu berekspektasi sama hasilnya yang instan tapi saya sempat ukur lingkar lengan saya sebelum pemakaian, alhamdulillah ukuran lingkar lengan saya berkurang 1,5 cm lho. Wah ternyata terbukti juga hasilnya. 

Saya paling sering pakai krim ini saat berolahraga. Dengan memakai Clinelle Hot Body Cream, tubuh memang terasa jadi lebih berkeringat (mungkin dari efek sensasi hangatnya ya). Selain itu, efek positif lainnya, saya juga jadi makin bersemangat buat olahraga def, he he he. Meski begitu, (sedikit demi sedikit) saya coba barengi dengan pola makan sehat biar hasilnya juga nggak sia-sia. Justru saya jarang sekali pakai krim ini saat mau tidur karena suka kelupaan pakai.

Menurut saya, krim ini wajib kamu punya sih, apalagi buat kamu yang memang sedang ingin mengecilkan beberapa bagian tubuh kamu. Supaya hasilnya cepat terlihat, kamu perlu ekstra sabar dan telaten menggunakannya ya. 

Where to Buy


Nah, buat kamu yang ingin mencoba Clinelle Hot Body Cream, produk ini tersedia di official store Clinelle di Shopee dan Tokopedia. Kamu juga bisa membeli produk ini di Guardian terdekat. 

Untuk harganya, Clinelle Hot Body Cream dibandrol dengan harga Rp 159.000,- untuk ukuran 80 ml dan Rp 289.000,- untuk ukuran 170 ml. Lumayan pricey ya.

Tapi, don't worry. Khusus setiap pembelian produk Clinelle Hot Body Cream di Official Shopee Clinelle, kamu bisa dapatkan diskon tambahan 10% untuk setiap pembelian paket Clinelle Hot Body Cream 80ml dengan minimum pembelian Rp 150.000.- dan maksimal diskon Rp 100.000.- dengan menggunakan kode voucher CLINCLZTT. Catat ya, periode diskonnya cuma sampai Jumat, 31 Juli 2020.

Overall Impression


So far, saya beri nilai 8,5/10 buat produk ini. Ini rinciannya:

Mudah diaplikasikan
+ Memiliki kandungan bahan yang aman
+ Sensasi hangatnya masih relatif nyaman
+ Ampuh mengecilkan bagian tubuh

- Harga sedikit pricey
- Terlalu wangi

***

Oke, sekian review dari saya. Untuk info produk lainnya, kamu juga bisa baca di media sosial Clinelle Indonesia atau Clozette Indonesia. Semoga bermanfaat ya. 


Disclaimer: Artikel ini merupakan review project blog #ClinelleXClozetteIdReview antara Clinelle Indonesia dengan Clozette Indonesia. Namun demikian, artikel ini murni honest review dari pengalaman pribadi saya saat menggunakan produk tersebut.
Monday, May 18, 2020

5 Tips Anti Mager Agar Tetap Produktif selama WFH



Halo, apa kabar yang masih setia di rumah aja? ๐Ÿ˜€Bagi yang selama ini bekerja dari rumah atau work from home (WFH), siapa sangka kalau masa WFH ternyata cukup panjang ya. Saya sendiri sudah tiga bulan WFH. Bosan? Sudah pasti. Tapi kondisi ini masih sangat saya syukuri karena banyak orang yang nggak memiliki kesempatan yang sama seperti saya dimana perusahaan atau tempat kerja mereka nggak menerapkan kebijakan WFH.

Nah, bicara soal WFH, pasti banyak di antara kamu yang tetap harus mengurusi pekerjaan kantor ya. Tapi suasana bekerja saat di kantor dengan di rumah tentu saja sangat jauh berbeda. Benar nggak? Meskipun terlihat lebih santai dan cenderung fleksibel, bekerja dari rumah ternyata banyak tantangan dan godaannya, lho! Salah satu godaan terbesar adalah mager alias malas gerak. Bayangkan bagaimana kasur dan bantal setiap hari "memanggil-manggil" kamu, belum lagi film atau drama Korea yang lagi booming amat menggoda untuk kamu tonton, ditambah pekerjaan rumah yang "berteriak" ke kamu minta diselesaikan. Pokoknya ada saja gangguannya - gangguan yang akhirnya membuat produktivitas dan motivasimu dalam bekerja menjadi berkurang.

Agar kamu tetap produktif dan waktu bekerja kamu selama di rumah tetap efektif, kamu bisa ikuti 5 tips antimager dari saya berikut ini.
Sunday, April 12, 2020

Gluten-free Choco Peanut Brownies



Assalamu'alaikum.

Apa kabar yang masih stay di rumah aja? Semoga teman-teman pembaca selalu dalam keadaan sehat ya. 

Selama bekerja dari rumah atau work from home (WFH), cemilan mungkin jadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Cemilan memang asyik sih buat jadi teman ngopi dan teh pas lagi WFH, apalagi cemilan yang manis macam kue brownies. Meskipun snack ini tergolong kurang sehat, tapi saya tahu banyak orang yang tetap gemar makan brownies, termasuk saya, he he he. Kebayang nggak bagaimana rasa manis dan sedikit pahit dari cokelat yang tiba-tiba lumer di mulut kamu? Hmm, yummy ya! 

Kalau saya bilang, kue ini cukup mudah dibuat dan nggak memerlukan teknik baking khusus, jadi siapa saja sebenarnya bisa membuat brownies. Perbedaan hasil akhirnya tergantung pada kualitas bahan dan jumlah cokelat yang digunakan. Semakin banyak dark cooking chocolate yang digunakan, semakin intense rasa cokelatnya, namun kuenya juga akan semakin pahit.

Sunday, February 16, 2020

Kulit Sehat dan Cerah dengan Dermaster Skincare




Assalamu'alaikum.

Halo, beauty lovers!

Memiliki wajah yang sehat dan glowing sudah menjadi dambaan banyak kaum hawa, termasuk saya. Apalagi kalau usia sudah memasuki kepala tiga atau empat, rasanya kebutuhan akan skincare semakin meningkat. Betul nggak bu-ibu? 

Semakin bertambah usia, kulit kita tentunya akan semakin rentan untuk kendur dan muncul tanda-tanda penuaan, seperti kerutan. Apalagi jika kita sering berada di luar rumah dan terpapar sinar matahari dan polusi, kulit akan cepat kelihatan kusam. Nah, untuk menjaga kesehatan kulit kita, terutama kulit wajah, kita perlu menggunakan skincare yang bisa mencegah munculnya masalah-masalah tadi, sekaligus menjaga kulit wajah kita agar tampak sehat dan awet muda. 

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan dari Clozette Indonesia untuk mencoba dan me-review rangkaian produk skincare yang dikeluarkan oleh salah satu klinik kecantikan yang dipercaya memiliki dokter estetika terbaik di Indonesia. Apalagi kalau bukan Dermaster Clinic. Klinik yang sering jadi langganan artis ini mengeluarkan produk perawatan wajah yang dirancang untuk mengatasi beberapa masalah kulit antara lain Dermaster Acne Series untuk perawatan kulit yang berjerawat, Dermaster Whitening Series untuk mengatasi pigmentasi pada wajah, serta Dermaster Anti Aging Series untuk mengatasi masalah penuaan.

Kebetulan saya diminta untuk me-review tiga produk dari dua rangkaian skincare-nya, yakni Dermaster Oil to Foam, Dermaster Anti Wrinkle Serum dan Dermaster White Glow. Saya sudah coba ketiga produknya selama seminggu. Penasaran dengan perubahan yang terjadi sama kulit wajah saya? Yuk, baca satu-satu ulasannya ya!

Sunday, November 10, 2019

Makan Gratis di Restoran Mahal dengan Zomato Gold: Emang Bisa?



Hari gini masih bingung mau makan dimana? Harusnya sih nggak ya karena sekarang sudah ada aplikasi Zomato yang menyediakan direktori lengkap tempat makan dan restoran yang berlokasi di sejumlah kota besar di Indonesia, terutama di Jabodetabek. Apalagi semenjak ada program Zomato Gold, hunting tempat makan jadi makin seru. Mau tahu kenapa?