MY 'SPEAK UP' MOMENT

Sunday, December 04, 2016



Assalamu'alaikum.

Kamu pasti percaya bahwa setiap orang itu berbeda dan punya keunikan masing-masing 'kan? Yes, everyone is different. Setiap orang di dunia ini sebenarnya memiliki sisi kelebihan yang seringkali nggak diketahui oleh mereka sendiri. Bahkan, mereka cenderung memandang sempit tentang diri mereka, hingga terlontar ucapan, "Ah, siapa sih gue? Gue bukan apa-apa!". 

Eits, ucapan itu secara nggak sadar sebenarnya salah satu bentuk ketidakpercayaan diri alias 'nggak pe-de'! Siapa bilang kalau kamu bukan apa-apa? Bisa saja selama ini kamu memiliki sesuatu hal yang luar biasa, bakat atau semacamnya, tapi you don't have any guts to do or to say. Atau contoh lain, kamu mungkin sering merasa gugup atau nggak pe-de saat berhadapan dengan orang banyak, segan jika bertemu orang baru dan nggak berani mengajak orang berbicara lebih dulu. Well, speak up guys!

Hmm, sejujurnya, saya juga pernah merasakan momen-momen itu kok, hingga rasanya saya mau menghilang saja dan tenggelam di dasar lautan (hehe, nggak deh!). Tapi, pada akhirnya saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa saya bisa dan ya, inilah salah satu kisah percaya diri saya. :) 


Momen itu saya peroleh ketika saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato di acara Completion Ceremony, di depan puluhan teman mahasiswa pasca sarjana serta dosen di University of Sydney November 2014 silam. Completion Ceremony merupakan acara pre-graduation ceremony yang dikhususkan bagi mahasiswa internasional di luar Australia. Kebetulan pada hari itu, pihak fakultas dan International Student Office, dalam hal ini yang menangani beasiswa saya, sama-sama mengadakan acara pre-graduation, namun dilaksanakan di dua tempat yang berbeda. Nah, khusus untuk Completion Ceremony yang diadakan oleh International Student Office, acaranya lebih diperuntukkan untuk mahasiswa-mahasiswa internasional yang memperoleh beasiswa Australia Awards.

Ketika saya ditawari untuk menjadi salah satu mahasiswa yang memberikan short speech di acara yang diadakan oleh pihak fakultas, terus terang saya speechless! Dahsyatnya lagi, saya juga dimintai tolong oleh pihak International Student Office untuk membawakan pidato di acara serupa. Ah.. bagaimana ini? Sesaat saya merasa nggak pe-de dan pengen banget menolak kedua tawaran tersebut. Tapi, teman-teman dekat saya justru menyemangati saya pada saat itu. Aduh... mau ngomong apa ya saya nanti? Saya benar-benar nggak punya bayangan. Terlebih lagi, orang tua saya akan datang ke acara tersebut. Okay, take a deep breath, Nisa! Take a deep breath!

Sehari setelah diberitahu untuk menjadi speaker, saya langsung buru-buru mencari ide alias 'contekan' untuk membuat dua naskah pidato, hehe. Saya browsing semua contoh pidato kelulusan, bahkan saya coba cari naskahnya di internet. Cari contekan di Google sebenarnya mudah tapi saya tetap harus sedikit mengedit dan menyesuaikan kembali teksnya. Setelah berhasil membuat naskah yang panjangnya pun sampai hampir dua lembar, saya bersikeras untuk latihan sebelum manggung. Meski dalam keseharian saya di Australia, saya berbicara menggunakan Bahasa Inggris, tapi yang namanya pidato dan semua audiens di saat yang sama memperhatikan, saya tentu saja nggak boleh hanya baca saja. Paling tidak saya harus latihan intonasi dan mimik agar saya bisa membawakan pidato dengan lebih menarik dan yang mendengarkan juga tertarik.

Pidato pertama di depan teman-teman satu jurusan dan ketua jurusan saya pun fokus melihat saya. Uh :D

Akhirnya saya putuskan untuk latihan di kamar apartemen, ditemani oleh beberapa teman se-tanah air. Meskipun saya coba sedikit demi sedikit untuk menghafal teksnya supaya terlihat agak natural, tapi 75% saya akan tetap mengandalkan bacaan saat di TKP nanti. Fingers crossed!

Saya bersama teman-teman satu fakultas yang hadir

Ekspresi saya saat membawakan pidato yang pertama

Saat hari H, terus terang saya tidak terlalu tegang. Mungkin karena di acara pertama, ruangan tidak terlalu besar dan audiensnya pun tidak terlalu banyak. Hanya teman-teman di jurusan Public Health, dosen beserta keluarga yang ada di ruangan tersebut. Saya bisa lihat bagaimana mereka semua memperhatikan saya, termasuk ayah dan ibu saya yang jauh-jauh datang dari Jakarta, dan tentu saja ketua jurusan saya yang kebetulan ambil posisi duduk paling depan. Alhamdulillah, saya merasa sangat percaya diri membawakan pidato saya yang pertama tersebut. Apalagi ketika ada momen tawa yang pecah saat saya menambahkan lelucon berupa kata-kata mutiara yang saya contek dari mbah Google. Wah, saya langsung merinding nggak karuan. Lega, benar-benar lega. Senang banget rasanya bisa menyelesaikan satu tugas. 

Senyum yang berhasil menutup nervous-nya saya saat memberikan pidato yang kedua :)

Mungkin ini mimik wajah saya saat tegang, hehe.

Di acara pre-graduation yang kedua berlangsung sore harinya. Kali ini peserta dan undangannya lebih banyak dari acara yang pertama. Nggak hanya mahasiswa internasional dari jurusan Public Health saja yang datang, tapi juga jurusan-jurusan lain, seperti ekonomi, bahasa dan linguistik, teknik, arsitektur, hingga ilmu politik dan kebijakan. Semua adalah teman-teman saya yang lulus di tahun yang sama dengan saya, meskipun tidak semua satu angkatan. Belum lagi keluarga dan kerabat, para dosen, pihak pemberi beasiswa dan International Office, Konsulat Jenderal RI hingga yang terpenting Wakil Rektor juga menjadi tamu undangan. Huaa... tiba-tiba kok saya merasa kepedean ya? Kok mau-maunya saya diminta maju ke depan lagi untuk kasih speech? Huaa.. I'm panic! 

Alhamdulillah, saya tetap berusaha tenang dan pada akhirnya semua itu saya lalui dengan lancar. Tapi kali ini saya tidak memberi lelucon lagi di dalam pidato saya (sebenarnya karena saya sudah kehabisan ide sih, hehe). Setelah itu, saya nggak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah membangkitkan rasa percaya diri saya hingga berhasilkan membawakan dua pidato dalam satu hari. Kalau kata quiz Serioxyl Confidence yang diadakan oleh L'oréal nih, saya tuh orangnya 'Unstoppable'. Apa? Hehe.

Orang yang masuk kriteria 'Unstoppable' ternyata adalah mereka yang cukup percaya diri, namun seringkali menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri. Hmm... mungkin bisa dibilang juga sebagai orang yang cenderung perfeksionis. Tapi bagusnya, orang yang 'Unstoppable' ini akan tetap berusaha dan semangat untuk melakukan yang terbaik. Wah, am I belong to any kind of that person? Hehe. Yah, sepertinya iya. Saya memang kadang memegang standar yang tinggi untuk diri saya sendiri, sampai-sampai saya merasa kelelahan untuk mencapai standar tersebut.

Nah, kalau kamu sendiri bagaimana? Kamu kira-kira tipe orang dengan tingkat kepercayaan diri seperti apa, hayo? Semoga cerita saya ini bisa menambah rasa percaya diri kamu, ya! Yuk, dicoba kuisnya dan ceritakan ke saya kisah percaya diri kamu. Always be confident, ya! ;)

Hasil kuis #SerioxylConfidence
(http://serioxyl-confidence.com/quiz/result_shine2)
Tulisan atau post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

2 comments

  1. Anissa kereen... sukses terus yaaa. Tetap percaya diri ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya Minda! Kamu juga tetap percaya diri and being you~ all the best ya! :)

      Delete

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.