3 HARI UNTUK SELAMANYA

Sunday, January 13, 2013

Seperti judul film saja, "3 Hari untuk Selamanya". Saya bukan ingin menulis ulasan film yang dibintangi Nicholas Saputra ini, melainkan mereview cerita "3 Hari untuk Selamanya" versi saya. Kali ini bukan Riri Riza yang menulis dan mengarahkan cerita saya ini, melainkan Dzat Maha Esa, Pemilik Alam Semesta, yang melakukan.


Tak pernah terlintas dalam bayangan saya, saya benar-benar berada dalam situasi ter-luar biasa yang pernah saya miliki dalam hidup saya. Yup, 3 hari - untuk - selamanya. Benar-benar hanya 3 hari! Dalam 3 hari, saya harus bersaing dengan para kompetitor saya yang semuanya tidak bisa saya anggap remeh, dan dalam 3 hari pula, saya harus berjuang untuk menjadi salah satu dari 450 pemenang, yakni penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2013. 

Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya, sebagai pemula, sebagai pemimpi, dan sebagai pemilik cita-cita. Alhamdulillah, sabtu lalu, saya menghabiskan jatah 3 hari saya itu. Beberapa hari yang lalu, saya lebih dulu melewati dua ujian IELTS, yang keduanya saya akui tidaklah mudah. Kemudian diakhiri dengan sesi wawancara oleh pihak Australian Awards Indonesia sebagai proses akhir tahap seleksi.

***

Hari 1. Senin, 7 Januari 2013

Senin, hari pertama masuk sekolah, apalagi yang identik kalau bukan kemacetan. Saya bukan hanya berlomba dengan para pelamar lain untuk sampai tepat waktu di tempat ujian, melainkan juga berlomba dengan para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, atau para pekerja yang tengah berangkat ke kantor, agar terhindar dari kemacetan ibukota yang sudah nampak menyeruput sejak pukul 6 pagi. Di sepanjang perjalanan, saya tak berhenti berdo'a agar saya jadi salah satu juaranya, sampai di tempat ujian tepat waktu. Itu saja sudah pertarungan yang berat. 

07.15 sampai di ruang ujian, tepatnya di salah satu gedung perkantoran swasta di bilangan Kuningan, saya sudah melihat beberapa peserta yang sudah lebih dulu sampai dari saya. Luar biasa! Mereka pasti sudah berangkat lebih pagi dari saya, pikir saya. Tetapi, bisa juga mereka cukup beruntung karena tinggal dekat dengan lokasi ujian. 

Tak soal siapa yang lebih dulu sampai, yang penting saya sudah sampai lebih dari cukup waktu, 45 menit sebelum waktu seharusnya saya tiba. 90 menit berlalu. Di saat itu pula, saya dan seluruh peserta satu persatu melakukan sesi foto dan pendaftaran sidik jari. Ujian yang saya hadapi memang bukan ujian yang main-main. Penyelenggara ujian nampaknya sangat serius dalam memilih kandidat-kandidat ini alias sang pemenang. 

Waktu latihan kesabaran saya ternyata belum usai. Saya harus menunggu giliran untuk dipanggil dan mengikuti tes berbicara (speaking). Setidaknya lebih dari 1 jam saya harus duduk dan menanti panggilan itu datang. Untungnya, saya tidak sendiri. Saya ditemani para sahabat sekaligus para pejuang yang juga tengah menanti saat itu tiba. Waktu bergulir ternyata tak selambat yang saya pikirkan hingga tiba panggilan untuk nama saya. Ketika melihat sekeliling, tinggal beberapa orang saja yang tersisa. Saya pun lantas bergerak maju, menitipkan tas dan barang-barang saya di loket penitipan barang, lalu berjalan dengan mantap ke ruang tes.

Di dalam ruangan, saya hanya berdampingan dengan seorang pewawancara, laki-laki, Warga Negara Asing (WNA), tinggi besar, dan yang pasti dia tidak mengijinkan saya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Tes berbicara yang saya lakukan sepertinya memakan waktu yang tidak banyak. Rasanya hanya sekejap saja saya tadi ada di dalam. Banyak hal yang dia tanyakan, mulai dari pekerjaan saya, permainan yang dulu saya mainkan saat masih kecil, dan hal-hal lain seputar isu dan kejadian di sekitar saya sehari-hari. Semua itu saya harus saya jelaskan dengan baik, dengan bahasa Inggris, yang jujur saya masih malu belum bisa fasih hingga sekarang.

***

Hari 2. Kamis, 10 Januari 2013

Kali ini saya berangkat ke lokasi ujian yang sama dengan hari sebelumnya, 15 menit lebih cepat. Bukan tanpa sebab, seluruh peserta memang diharuskan tiba pukul 07.30, 30 menit lebih cepat. Malam sebelumnya saya sampai hampir tidak bisa membayangkan, jam berapa saya harus berangkat dari rumah. Jika saya diminta pukul 07.30 agar tiba di lokasi, setidaknya 15 menit sebelumnya kami sudah standby

Alhamdulillah, Allah memang Maha Pemurah. Dia melancarkan perjalanan saya ketika itu. Pukul 07.10 saya sudah tiba di tempat ujian. Tepat dugaan saya. Waktu tempuh perjalanan saya sama persis dengan hari senin sebelumnya. Karena 15 menit berangkat lebih awal, saya pun sampai 15 menit sampai lebih awal. 

Ada pemandangan yang tak biasa yang saya lihat. Saya sungguh terkejut ketika baru keluar dari elevator menuju ruang tes, koridor sudah dipenuhi oleh antrian peserta lain. Antrian itu sudah mengekor hingga ke barisan paling belakang. Koridor nampak begitu gaduh karena dipenuhi manusia-manusia super. Saya melihat dua sahabat saya sudah lebih dulu berbaris cantik dan sesekali melambaikan tangan ke arah saya untuk memberi kode. Saya benar-benar tak menyangka, ternyata mereka semua adalah pejuang yang tangguh. Saya sampai tak bisa membayangkan jam berapa mereka tiba, dan jam berapa mereka berangkat.

Saya pun mengantri di barisan paling belakang. Antrian dibagi ke dalam 3 kelompok besar menurut jadwal tes berbicara. Saya berbaris mengikuti kelompok jadwal hari senin. Tak lama, saya berangsur-angsur makin masuk ke dalam. Kami harus berbaris untuk daftar ulang dan menitipkan tas kami di loket penitipan barang yang juga terbagi ke dalam 2 loket. Saya sungguh salut dengan manajemen penyelenggara yang sangat rapi dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Saya pikir sekitar 1 jam lebih saya harus menunggu lagi di dalam untuk mulai tes. Mereka benar-benar bisa memperkirakan waktu hingga kami diminta tiba pagi sekali. Selain itu, mereka sangat memperhatikan kejujuran dan bentuk kecurangan yang mungkin saja terjadi. Bagi peserta yang tidak membawa tempat pensil transparan, maka oleh pihak penyelenggara diberikan tempat pensil tersebut secara cuma-cuma. Saya salah satunya. 

Ujian kali ini lebih sulit dari senin lalu karena ada 3 tipe ujian yang akan dihadapi, yakni ujian mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing). Ujian akan memakan waktu 2,5 jam dan saya yakin akan jadi hari yang berat bagi saya. Setelah belajar dengan cukup intensif beberapa minggu, saya merasa cukup yakin menjawab pertanyaan di dua tipe ujian mendengarkan dan membaca. Hanya saja, ada beberapa jawaban yang saya ragukan. Ini memang tak terlalu jadi soal, sementara ujian menulis adalah yang palit sulit menurut saya. Saya hanya diberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan 2 esai dalam bahasa Inggris, dan dengan dua topik yang berbeda. Selain itu, penulisan juga ditentukan yakni tidak kurang dari 150 kata pada topik pertama, dan 250 kata pada topik kedua. 

Di sinilah, saya sempat mengalami writer's block atau tiba-tiba berhenti menulis karena entah apa lagi yang mau saya tambahkan. Hingga 20 menit pertama yang seharusnya saya sudah selesai di topik pertama, saya justru masih menulis. Perlu ekstra kerja keras untuk mengejar di topik kedua karena ketentuan jumlah katanya lebih banyak. Tapi alhamdulillah, semua dapat diselesaikan tepat waktu. 2 esai yang menurut saya masih ecek-ecek, dan masih perlu belajar mengingat jika bersekolah nanti saya akan terus dituntut menulis dalam bahasa Inggris. 

***

Hari 3. Sabtu, 12 Januari 2013

Yaaaaiiiiiiyyyyy!! Hari terakhir. Hari yang menentukan ini semua. Hari ketigalah yang jadi penentuan apakah saya bisa mewujudkan keinginan saya untuk jadi salah satu pemenang. Di hari sabtu yang biasanya saya bercengkerama dengan keluarga dan melakukan hal-hal menyenangkan di rumah, kali ini saya harus kembali berangkat pagi dan bersiap diajukan beberapa pertanyaan seputar rencana pendidikan saya di Australia. 

Tiba di tempat lokasi, tidak banyak orang bergerombol di koridor lift seperti kamis lalu, mengingat seleksi ini sudah terbagi ke dalam beberapa kelompok peserta. Saya mendapat waktu di hari sabtu, berselang 2 hari dari ujian saya sebelumnya. Wawancara akan dilakukan oleh pihak ADS, dan mereka semua adalah akademisi dari beberapa universitas di Australia, dan juga akademisi universitas di Indonesia yang juga alumni penerima beasiswa ADS. Sebelum memulai proses wawancara, saya dan sekitar 37 orang peserta yang lain berkumpul untuk diberikan pengarahan. Setelah itu, dipanggil satu persatu ke ruang wawancara. Seluruh peserta dibagi ke dalam 5 ruangan dan masing-masing akan diwawancarai oleh dua orang pewawancara. 

Lucky me, nama saya menuntun saya jadi orang pertama yang diwawancarai di kelompok 5. Hari itu saya sungguh tenang, tak ada ekspresi kepanikan dan kecemasan di batin saya. Sesekali saya membaca catatan yang sengaja saya buat untuk mengantisipasi pertanyaan apa saja yang akan diajukan, sebelum memasuki ruangan. Hingga saatnya nama saya diucapkan dan saya dengan mantap berjalan menuju ruangan yang akan jadi penentuan hidup dan karir saya.

Masuk ke ruangan tersebut rasanya sangat tenang. Di dalam hanya ada kami bertiga, saya ditemani dua orang pewawancara yang tidak bisa saya remehkan begitu saja, namun harus saya hormati. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan kepada saya sebagai bentuk konfirmasi dan penilaian atas apa yang pernah tulis dalam formulir aplikasi saya pada saat saya melamar. Tak pernah saya duga, ternyata pertanyaan yang diarahkan ke saya lebih banyak tentang penelitian yang akan saya lakukan. Alhamdulillah, Allah memudahkan dan melancarkan ucapan saya hingga saya mampu menjelaskan dengan baik, meskipun beberapa kali salah menyebutkan istilah bahasa Inggris. 

***
Kini, saya tinggal menunggu keputusan Illahi, apakah saya diijinkan menjadi salah satu pemenang di babak akhir ini atau harus bersabar dan ikhlas menerima kegagalan sebagai pembelajaran saya paling berharga. Saya sudah membuktikan usaha dan kerja keras saya selama kurang lebih 1 tahun untuk memperoleh hasil yang baik selama 3 hari kemarin. 3 hari yang akan jadi penentu masa depan saya selamanya. Semoga di bulan Februari depan, ada kabar membahagiakan bagi saya, keluarga, dan teman serta para sahabat yang sudah tulus mendo'akan perjuangan saya ini. Amiin ya robbal 'alamin. 
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

Post a Comment

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.