UCAPAN TERAKHIR

Sunday, March 11, 2012

Hari ini ulang tahunmu. Aku mengingatnya dari semenjak seminggu yang lalu. Aku sudah berpikir akan membuatkanmu kado spesial buatmu. Aku hanya bisa merangkai beberapa gambar dan foto kemudian membuatnya menjadi sebuah kartu ucapan digital yang tidak bisa kau sentuh, namun bisa kau lihat berulang kali. Aku berencana membuatnya sebentar lagi, menunggu waktu sempatku membuka laptop dan program Photoshop di malam hari, menyelinap di dalam kamar yang hanya diterangi lampu meja, sambil mendengarkan alunan musik di playlist yang tersimpan di ponsel.

(Dua hari yang lalu)

Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa tinggal dua hari lagi. Aku tidak hanya menunggu waktu sempatku itu datang, tetapi menunggu sampai kau memasang avatar (gambar profil) terbaik yang bisa diam-diam kuambil dan kusimpan untuk kujadikan bahan di karyaku. Kutunggu waktu itu tiba, namun dia tak pernah menjawab rasa inginku. Aku pun cemas, apa aku bisa membuatnya dan mengirimkannya tepat waktu. Aku menoleh ke ponsel, melihat setiap 10 menit ke profilmu, berharap fotomu yang baru kulihat berganti menjadi foto yang cocok untuk kurangkai menjadi kartu ucapan.

(H-1)

Besok kau akan merayakan hari lahirmu, dan aku tak kunjung membuat kartu ucapan itu. Bukan karena aku tak menemukan waktu sempatmu, tapi kau tak kunjung memasang foto terbaikmu. Aku ragu, apa kupakai saja foto yang ada, hingga tiba-tiba kau mengganti foto yang baru saja kulihat dengan foto yang selama ini aku harapkan. Foto itu pernah kulihat beberapa waktu yang lalu, dan kukenali sebagai foto terbaikmu. Aku menunggu kau memasangnya. Aku gembira dan langsung menyimpan di dalam laptopku. Aku bersemangat. Ideku sudah tertumpuk di kepala ingin dikeluarkan. Aku sudah sangat tahu apa yang harus aku lakukan pada foto itu. Namun aku tak sedang punya cukup waktu untuk mengerjakannya. Kini aku mengalami masalah yang berbeda.

Aku mengantuk, dan aku pulang kerja agak malam hari ini. Kondisi buruk untuk mengumpulkan mood mengerjakan itu semua. Aku pun tertidur sambil mendengarkan lantunan lagu jazz favoritku di atas tempat tidur. Aku tertidur pulas 4 jam lamanya, hingga pada akhirnya aku terbangun jam 1 pagi. Aku lupa belum sholat Isya malam ini. Aku pun bergegas mencuci muka dan berwudlu untuk bersiap mengerjakan sholat yang hampir saja aku tinggalkan. Aku dibangunkanNya.
Rasa kantuk pun berkurang. Setelahnya aku ingat apa yang sebenarnya harus kukerjakan. Aku juga meninggalkan pekerjaan membuat kartu ucapan itu. Aku tidur dan lupa bahwa aku meninggalkan laptop dalam keadaan menyala di atas meja. Kupegang laptop tersebut, terasa hangat. Akhirnya kuputuskan melanjutkannya. 

Pukul 02.17 pagi. Kulihat ke cermin, mataku kembali memerah. Sudah sebaiknya aku kembali ke tempat tidur melanjutkan tidurku tadi. Aku tersenyum kecil, melihat ke arah laptop. Aku berhasil menyelesaikannya. Kartu ucapan yang akan kuberikan kepadanya besok. Besok? Bukankah hari ini? Oh tidak, hari ini. Ternyata hari ini adalah ulang tahunnya. Aku berteriak kecil sambil menjulurkan lengan.
"Owatta!!!!! Akhirnya selesai juga......"
Aku sangat senang berhasil membuatnya. Aku sempat bingung apa kukirimkan saja dini hari ini juga, atau kubiarkan mata ini terlelap dulu lalu baru mengirimkannya saat aku bangun nanti. Mataku mulai menjawab perlahan. Aku sedikit demi sedikit menguap, kepalaku terasa berat rasanya ingin segera menidurkan kepala ini. Aku pun tertidur kembali. 

Aku membuka jendela, pagi ini terlihat cerah. Aku tidur hanya 4 jam, tetapi rasanya seperti habis tidur selama 10 jam, lelap sekali. Aku melihat ke ponselku. Dia sudah mengganti statusnya, dia terlihat senang. Sepertinya waktu yang tepat bagiku untuk mengirimkannya. Aku pun mengirimkan kartu ucapan digital itu kepadanya diiringi ucapan doa yang kutulis setelahnya. Aneh, tak terkirim. Apa jaringanku sedang rusak? Atau justru dia sedang tak menghidupkan ponselnya?
10 menit berlalu. Aku lihat kembali ke ponselku. Tetap tak terkirim. Ada apa ya? Aku mulai bertanya-tanya. Ah sudahlah, mungkin memang belum sampai saja. Aku memang sangat semangat dan bahagia saat membuatnya, tetapi saat mengirimkannya, aku sebenarnya agak khawatir, apa dia akan menerimanya. Antara aku dan dia sudah lama tak ada komunikasi. Terakhir aku hanya mengirimkannya secuplik kata mutiara, dan dia hanya mengucapkan terima kasih. Tak ada basa-basi lain. Tak ada pesan lain yang berantai di belakang ucapannya tadi. 

Aku merasa terasingi kembali olehnya. Kejadian beberapa bulan lalu kini terulang kembali. Aku tak membina hubungan dengannya bahkan kami tidak berpacaran, namun kami saling dekat. Aku tak pernah membohongi diri kalau aku menyukainya, sejak sebelum dia pernah meninggalkanku tanpa alasan yang jelas, dan aku kembali lagi terpaut hati padanya. Kini memang berbeda. Jalinan komunikasi itu tak lagi tak semanis dulu, tak lagi dibumbui kata-kata romantis yang pernah kami utarakan satu sama lain. Hanya pernah kami saling bercerita satu sama lain tentang hobi dan kebiasaan kami menghabiskan akhir pekan di rumah. Tapi akhir-akhir ini itu tak lagi terjadi. 

Hari pun makin lama semakin gelap. Seharian aku meninggalkan ponselku di dalam kamar. Aku tak membawanya berpergian hari ini, aku lupa meninggalkannya tergeletak di atas meja. Sepulang ke rumah, hal yang pertama kulihat adalah pesan tadi, aku masih penasaran apakah pesan tersebut terkirim atau tidak. Ternyata belum. Ada apa dengannya? Apa dia memblokir aku dari temannya? 

Aku kesal, dan nafasku sesak. Aku ingin menangis. Aku memang sudah sering menangisinya, menangisi kebodohanku yang masih mengharapkannya kembali kepadaku setelah dia pernah menyakitiku dan meninggalkan aku tanpa sebab. Aku ingin menyerah. Tapi aku tak sanggup. Aku ingin ucapan ini bisa merubah sikapnya, melunakkan hatinya, dan menyadarkannya bahwa aku masih memiliki rasa itu sampai saat ini, meski terlihat bodoh bagiku. 

Kekesalanku memuncak, aku tak bisa menahan air mataku. Tangisanku pecah. Aku mengganti avatarku dengan raut wajah paling menyedihkan yang pernah aku miliki. Aku melihat kembali pesan itu, aneh memang tak terkirim. Aku berinisiatif mengirimkan kembali gambar itu. Terkirim! Tiba-tiba tak lama muncul suara dari balik ponsel. Ada pesan masuk - darinya. Aku kaget, tangisanku sejenak berhenti. Aku terdiam dan terpaku. 
"Terima kasih"
Terima kasih. Hanya itu? Kenapa hanya itu balasanmu? Aku kesal. Kutimpalkan saja balasannya tadi.
"Aku sudah mengirimkan itu lamaaaaaaa sekali. Suka tidak?"
Aku sengaja mengatakan itu agar dia tahu bahwa sebenarnya aku tak ingin gambar itu terakhir dilihatnya. Aku ingin pagi-pagi tadi dia sudah melihatnya. Sampai aku mengirimkannya dua kali. Tapi dia sepertinya biasa saja meski dia mengaku sangat suka dengan foto itu.

Aku tak melanjutkan membalas pesannya. Kini aku mengerti aku tak mampu mengubah apapun semudah yang aku mau. Aku memang tetap perempuan bodoh yang terus mengharapkan masa-masa itu datang kembali, padahal kenyataannya tidak. Aku lelah sekali. Aku lelah menerka semua jawaban dari pertanyaan kehidupan ini. Aku lelah menerka perasaannya padaku setelah sekian lama aku tak ada di sisinya. Aku lelah menunggu keberpihakan hatinya kepadaku yang mungkin dia tahu bahwa aku telah memberikannya kesempatan kedua dan ingin memulai itu dari awal, tapi kenyataannya tak demikian adanya. Aku lelah berprasangka tentangnya, tentang bagaimana dia menyikapi setiap pembicaraan kami, bagaimana dia memperhatikan setiap detik keadaanku, bagaimana dia melihatku selama ini - apa dia benar-benar ingin mengambil kesempatan ini.

Sudah cukup. Itu adalah pemberian terakhirku yang terindah untuknya. Ucapan terakhir yang bisa aku sampaikan padanya di hari bahagianya. Ucapan yang mungkin bisa selalu mengingatkannya, bahwa pernah ada perempuan bodoh yang memberikannya kesempatan untuk membuka hatinya kembali kepada perempuan itu.

This story is dedicated for my crush and my heartbreaker
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

2 comments

  1. Puk puk mbanis..
    sedih aahhh..
    :((

    ReplyDelete
  2. Setiap aku baca ini aku sedih bun.... huhuhu.... :((

    ReplyDelete

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.