CINTA YANG MENYEMBUHKAN

Sunday, March 18, 2012

”Ih, Kak Titi giginya penyakitan.”

Obi meledek dan menertawaiku terus menerus. Dia senang sekali menggodaku yang sedang sakit gigi. Sudah 4 hari rasa sakitku belum hilang-hilang. Rasa ngilu di gigiku muncul terus menerus, padahal kemarin aku sudah berobat.

Hari ini hari minggu. Suasana rumah selalu hangat jika akhir pekan sudah tiba. Aku sedang asyik menonton TV, sementara Ibu dan adik perempuanku sedang sibuk menyiapkan makan siang. Ayahku pergi ke bengkel dari 2 jam yang lalu dan mungkin baru kembali saat makan siang, sedangkan adik laki-lakiku, Obi, berlarian ke sana kemari, meledekku dengan sebutan ”gigi jelek” sambil memegangi mainan yang baru dibeli ayah seminggu yang lalu.

Aku berusaha menikmati acara TV yang aku tonton. Aku seakan tak mendengar lelucon yang dibuat adikku dan bagaimana Ibu dan adik perempuanku, Lisa, tertawa dan menikmati leluconnya. Hari ini dijadwalkan hasil ujian kompetensiku keluar di internet. Aku sangat khawatir akan hasil akhirnya, mengingat jumat kemarin aku terlambat tiba di kampus dan akhirnya mendapat penalti pengurangan waktu selama setengah jam, sehingga hanya diberikan waktu 1,5 jam untuk mengerjakan sekitar 120 soal. 


Aku melihat ke jam dinding. Sudah saatnya aku mengecek hasil ujian tersebut. Aku berlari ke kamar. Sambil sesekali memegangi pipi kiriku yang masih bengkak, aku menyalakan komputer di dalam kamar. Aku membuka halaman web yang dituju. Kuperhatikan nama-nama mahasiswa yang lolos seleksi ujian kompetensi. Aku menarik kursor dari atas ke bawah. Kuperhatikan dengan seksama. Namaku tak muncul. Aku memastikan kembali, tetap saja tidak ada nama mahasiswa yang mirip dengan namaku. Mungkin sudah lima kali aku menaik-turunkan kursor. Aku kesal dan berteriak.
”Ahhhhhhhh.........”
Ibu kaget mendengar teriakanku. Dia berlari masuk ke kamarku. Ketika ibu masuk, dia melihatku sedang menangis.
”Ada apa sayang? Gigimu sakit lagi?”
Mataku berkaca-kaca. Ada tetesan air mata tumpah di bibirku saat aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak lulus ujian. Dia memandangiku kemudian menarik tanganku dan memelukku.
"Cup cup sini. Mana sini ibu lihat giginya. Yang mana yang sakit?"
Ibu tak menyadari alasanku menangis. Aku masih tertegun, tak bicara sepatah kata pun. Tangisanku makin kencang. Tak berapa lama aku pun berhasil membuka mulutku yang bungkam karena dipenuhi tetesan air mata.
"Ibu, aku tidak lulus ujian. Aku gagal....."
Dia melihat wajahku dengan tatapan paling lembut seorang ibu yang pernah aku lihat.
"Ini semua karena sakit gigi ini, bu. Gara-gara sakit gigiku ini aku terlambat ke tempat ujian dan a.. a.. aku tidak lulus."
Ibu sepertinya paham kondisiku. Dia memberikanku tatapan hangat yang seolah mengatakan ”Diamlah nak, dunia belum berakhir”

Tak lama ibu menghapus air mataku yang tak henti jatuh ke pipiku. Dia mengelapnya dengan bajunya yang tercium penuh bau makanan. Kemudian dia merangkulku dan mengajakku keluar kamar. 
"Ayo kita makan dulu. Adikmu, Lisa sudah buatkan sup jagung yang enak untuk kakaknya."
Aku menuruti kata-katanya. Kami turun ke ruang makan bersama-sama. Di bawah, sudah ada Ayah dan Lisa yang menunggu kami di meja makan. Ayah sudah pulang dari bengkel. Aku tak mendengar dia datang karena aku tengah menangis tadi. Aku mendekati mereka dan ayah pun bangun dari kursinya.
"Aduh anak ayah habis nangis ini? Sini biar ayah lihat gigimu. Masih sakit ya?"
Ayah menodongkan genggamannya untuk memelukku. Aku berlari kepadanya. Kami saling berpelukan. Tangisanku pecah lagi.
"Ayah..... aku tidak lulus ujian kompetensi. Aku gagal."
Aku menangis terisak-isak. Dia mengusap rambutku dengan lembut. 
"Ayah mengerti perasaanmu. Jangan sedih lagi ya. Kamu masih bisa mencobanya bulan Oktober depan, kan?"
"Tapi ayah, aku gagal hanya karena aku terlambat, dan itu karena sakit gigiku ini. Aku benci, aku kesal. Haaaa....."
Ibu mendekati kami. Dia pun mengelus-elus rambutku. Belaiannya yang lembut menghentikan tangisanku. 
"Sudah ya, jangan menangis lagi. Masih ada kesempatan berikutnya. Ibu yakin kamu pasti bisa. Sekarang yang terpenting sakit gigimu harus cepat sembuh. Jadi sekarang ayo kita makan. Nanti supnya dingin."
Aku menatapnya. Dia tersenyum. Aku melihat ke sekeliling meja makan. Banyak makanan yang tampak enak, terhidang di atas meja. Di sudut, tampak seorang gadis tersenyum padaku. Lisa menarikkan kursi untukku.
"Ayo Kak, kita makan. Kak Titi harus coba sup jagung buatanku ini."
Aku mengangguk penuh senyum dan mengatakan iya. Aku mengusap air mata yang tersisa di pipiku. Ketika aku hendak berjalan ke arah kursi yang sudah dia siapkan untukku, tiba-tiba muncul suara teriakan anak kecil. 
"Iya ayo makan. Obi lapar!!!"
Obi berdiri di dekat sofa, memegangi mainan yang dari tadi dia mainkan. Iya berteriak kelaparan.
"Kenapa pada diam? Ayo makan, Obi lapar!!!"
Dia menghentak-hentakan kakinya. Kami menoleh kepadanya. Seketika kami tertawa. Ayah tertawa terbahak-bahak. Diikuti Ibu dan Lisa. Aku pun menertawai tingkah Obi itu. Akhirnya kami semua tertawa. Tetapi Obi kembali menghentak-hentakkan kakinya sambil berteriak. 
"Ah.. kenapa sekarang pada tertawa. Ayo makan, Obi lapar!!!"
Tawa kami makin keras. Aku memegangi pipi kiriku. Aku heran aku tak merasakan ngilu apa-apa. Padahal suaraku sangat keras, sampai-sampai Ibu juga melihatku dengan tatapan heran karena aku bisa tertawa begitu lepas.

***

Untuk sesaat, aku tak merasakan rasa sakit di gigiku ini. 
Untuk sesaat, aku sudah tak memikirkan kesialanku hari ini. 
Untuk sesaat, aku merasakan bahagia yang teramat dalam -kebahagian berkumpul bersama keluarga. Cinta mereka benar-benar sudah menyembuhkanku. 
Aku bahagia dan kembali tertawa.

This story is dedicated for #FFHore, day 2
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

Post a Comment

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.