JADILAH MILIKKU, MAU?

Sunday, February 05, 2012

Udara siang ini begitu terik, berbeda dengan Jumat kemarin. Aku tertidur pulas semalam. Tidur diiringi dengan iringan hujan memang sungguh nikmat. Sepanjang jumat kemarin cuaca memang tidak bersahabat. Dari pagi hingga sore hari, angin berhembus kencang, dan ditutup dengan hujan lebat di malam hari. Alhasil seperti biasa, suasana ibukota di kala jam pulang kantor kemarin sangat padat. Aku pun sampai di rumah sudah agak larut.  

Hari ini aku sudah punya rencana pergi keluar. Semenjak kejadian hari kamis lalu, Andra jadi sering sekali menghubungiku. Dia mengajakku kencan lagi hari ini. Dia terus menerus berjanji tidak akan mengulangi kejadian di kencan pertama kami. Aku tak terlalu bersemangat menanti waktu kencan kami yang kedua. Aku memulai aktivitas sehari-hariku dengan mencuci beberapa pakaian kotor dan memasak. Di kos-kosanku ini, setiap penghuni selalu mendapat jatah memasak setiap harinya secara bergantian. Kebetulan sang pemilik kosan menerapkan ini agar bisa membangun kebersamaan dan kenyamanan di antara penghuni. Bagi siapa yang tidak bisa memasak, dia dapat menyiapkan makanan dari luar secara sukarela, berapapun harganya, tidak ada batasan.

Aku yang selalu mendapat jatah hari sabtu, mengharuskanku pergi ke pasar setiap pagi dan memasak untuk teman-teman dan Ibu Atik, sang pemilik rumah beserta kedua anak perempuannya yang masih gadis. Hari ini tidak seperti biasa aku bangun pagi. Aku agak kesiangan sehingga aku sudah tak sempat pergi ke pasar. Aku memutuskan membeli bahan-bahan memasak di warung sayur dekat rumah. Sesampainya di warung sayur, tidak banyak yang dijual di warung tersebut. Hanya beberapa jenis sayuran, seperti bayam, kangkung, dan sop-sopan. Bahan lauk pun tak terlalu banyak, hanya ada beberapa bungkus cumi segar, 2 ekor ayam, dan setengah kilo daging sapi has dalam. Sang pedagang mengaku karena hujan semalam, dia terlambat tiba di pasar subuh tadi. Aku tak ambil pusing. Akhirnya aku membeli 3 bungkus cumi, dan sayur sop-sopan. Rencananya akan kumasak Cumi Goreng Tepung dan Sayur Capcai. Teman-teman kosanku suka sekali dengan seafood dan aku yakin menu hari ini bisa jadi menu favorit mereka.

Tiga menu hidangan akhirnya selesai kusiapkan tepat jam 11 siang. Semua penghuni mencium aroma sedap dari dalam dapur dan mereka berlarian keluar kamar. Jam makan siang pun dimulai. Aku senang akhirnya hidanganku hari ini benar-benar jadi menu favorit mereka.

Menunggu hingga jam 3 tanpa melakukan apa-apa memang sungguh membosankan. Aku pun membuka laptopku dan mulai menuliskan beberapa tips memasak di blog pribadiku. Suara ponselku berdering kencang. Ada sms masuk.
"Ta, nanti jadi kan ya? Aku jemput kamu satu jam lagi. Jadwal kita dipercepat, aku mau ajak kamu nonton. Aku sudah pesan tiket online untuk pemutaran jam 3. Kamu siap-siap ya. Aku lagi siap-siap. 15 menit lagi aku berangkat. Hmm... jangan lupa dandan cantik ya."
Kalimat terakhirnya membuatku tersenyum. Tapi aku bingung kenapa jadi dipercepat. Sebelumnya dia bilang akan nonton saat pemutaran jam 6 sore. Tak ingin lama terdiam, aku pun membalasnya.
"Oh.. begitu. Oke, aku siap-siap ya! Hmm... mudah-mudahan film pilihanmu hari ini tidak membosankan dan membuatmu ngantuk ya. He he he... Hati-hati ya kamu di jalan!." 
Setelah aku balas smsnya, aku pun segera mematikan laptop, dan seketika aku panik. Entah kenapa tiba-tiba aku panik. Padahal tadinya aku berpikir kencan hari ini akan biasa saja. Aku lekas membuka lemari baju dan mencari baju terindah dan termanis yang aku kenakan sore ini. Kalimat terakhir di smsnya masih tersimpan di memoriku ini. "Jangan lupa dandan cantik ya". Iya, aku pasti akan dandan sa - ngat cantik! Aku tak menemukan pakaian kesukaanku. Aku berlari keluar kamar dan memanggil Silvia, anak sang pemilik kosan, dia yang biasa mencuci dan menyetrika pakaian.
"Vi, kamu lihat baju long dress pink bunga-bungaku yang 2 hari lalu aku minta cuci? Aku nggak sempat cuci kemarin, jadi aku minta kamu. Apa sudah kamu gosok?"
Silvia kaget mendengar teriakanku. Dia pun dengan lantang menjawab.
"Oh..... iya sudah mbak Nita. Saya lupa belum kasih ke mbak, karena kemarin mbak pulang larut malam. Sebentar saya ambilkan dulu."
Silvia mengambil dan memberikannya kepadaku. Aku pun berlari kembali ke dalam kamar, dan segera aku memakainya. Itu baju favoritku. Ibuku mengirimkannya bulan lalu. Aku benar-benar dandan sempurna. Aku juga menggunakan parfum favoritku. Kata-katanya memang sudah mensugestiku. Jam dua kurang lima menit. Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah. Ponselku berbunyi. Andra sudah tiba. Aku sudah siap, dan lekas mengambil tasku. Aku bergerak keluar rumah dan sempat berpamitan dengan teman-teman sekosanku. Mereka heran melihatku tampil beda hari ini. Aku hanya tersenyum dan tertawa kecil.

Di luar Andra sudah berdiri dengan gagahnya. Wajahnya tetap sama, tampan, hanya saja dia sedikit mencukur jenggotnya. Dia terlihat rapi. Dia tersenyum dan sedikit terpukau melihatku. Aku tetap tersenyum kecil dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil kami tak banyak bicara, hanya sesekali dia melihat ke arahku saat lampu merah.
  "Kamu benar-benar dandan cantik ya hari ini? Hmmm.... aku suka!"
Jantungku berdegup kencang. Aku tak indahkan ucapannya tadi, aku terus memandang ke depan sambil tersenyum.
"Bukannya tadi kamu yang minta?"
Senyum di wajahku makin mengembang. Dia tertawa.

Sampailah kami di bioskop. Suasana bioskop terlihat ramai sekali. Loket pembelian tiket pun dijajali antrian pengunjung. Untung Andra sudah membeli tiket online, dia hanya perlu menukarkan tiket fisiknya di tempat penukaran tiket online. Ternyata dia hendak mengajakku nonton film terbaru "Midnight in Paris". Aku tak terlalu tahu film tersebut. Sepertinya film yang romantis. Tetapi jika melihat yang bermain adalah Owen Wilson, bisa jadi film ini adalah film komedi. Bagus lah, berarti film ini mungkin tidak akan membosankan. Kami tepat sampai jam 3 sore, dan sudah waktunya kami memasuki auditorium. Tapi dia permisi ingin ke toilet dulu. Sambil menunggunya aku membeli beberapa snack dan minuman untuk menemani kami menonton. Tak lama dia kembali dan di tanganku sudah ada dua buah Lemon Tea dan satu kotak popcorn karamel kesukaanku. Aku dan Andra memasuki auditorium. 

Di dalam auditorium, penonton belum terlalu banyak. Kami duduk di deretan tengah. Dia pas sekali memilih
lokasi tempat duduk. 
"Aku senang banget Ndra bisa pergi nonton lagi sama kamu. Hmm... kemarin kamu nggak banyak kerjaan kan? Kamu nggak pulang malam kan?
Aku bertanya padanya dengan semangat. Berharap dia tidak terlalu lelah hari ini.
"Memang kenapa? Oh... kamu takut aku ketiduran lagi ya? Nggak kok, aku kemarin pulang cepat dan pekerjaanku nggak terlalu padat."
Dia bicara sambil tertawa. Aku menyeringai tawanya itu.
"Awas ya, kalau sampai kamu ketiduran lagi. Aku tinggalin kamu nanti."
Aku bicara agak sinis, tapi senyum masih merona di wajahku. Dia mengangguk dan balik tersenyum. Filmnya mulai diputar. Lampu seketika dipadamkan. Suasana auditorium menjadi hening.

Satu setengah jam berlalu. Sejauh ini filmnya bagus. Sepanjang film diputar aku tidak merasa ngantuk. Filmnya sedikit lucu namun lebih banyak dibumbui kisah romantika sang pemain utama sebagai seorang penulis yang memiliki petualangan menjelajahi mimpi-mimpinya, bertemu dengan tokoh-tokoh idolanya.
Aku membereskan tasku. Kulihat kotak popcorn sudah kosong. Sepertinya Andra yang menghabiskannya. Aku tak banyak makan jika sedang menonton. Aku menyimak setiap adegan yang ada, mungkin saja bisa jadi inspirasiku di blog nanti malam. Aku tak terlalu lapar, tapi aku berharap Andra mengajakku makan malam ini. Aku tak mendengar suaranya dari tadi. Penonton lain sudah lalu lalang pergi meninggalkan auditorium. Mungkin aku penonton terakhir yang tersisa. Sambil membereskan rambutku, aku melihat ke sisi kananku. Aku kaget. Andra tertidur! Pulas sekali. Moodku seketika memburuk. Dengan wajah muram, aku bangunkan dia sambil menggerak-gerakkan lengannya.
 "Andra. Andra. Andra, bangun! Bangun Ndra! Filmnya udah habis. Kalau kamu nggak bangun aku tinggal."
Dia tak bergerak sama sekali. Aku kesal. Kenapa kejadian kencan pertama kami terulang lagi. Aku tahu aku tidak boleh menyalahkannya. Aku harus memakluminya. Tapi, dia membuatku malu. Petugas usher sudah memanggil kami untuk segera keluar. Aku benar-benar malu. Aku pun membangunkannya lagi dengan nada sedikit keras.
"Andra, ayo bangun. Kita sudah disuruh keluar. Aku sebel.... kamu udah janji nggak akan tidur lagi!"
Aku tak berhasil. Dia masih tetap diam. Aku marah, dan segera menarik tasku. Aku berteriak.
"Yaudah, kamu tidur saja di sini. Aku pulang! Biar kamu bisa puas nonton sampai besok pagi."
Aku marah, dan air mataku hampir jatuh. Aku menangis. Aku sedih dengan sikapnya. Aku berharap dia akan memberikanku kencan terindah, tetapi ternyata tidak - sama saja. Dia tertidur dan membuatku malu. Aku berlari menuruni tangga ke arah pintu keluar, namun tiba-tiba lampu bioskop mendadak mati. Seisi auditorium gelap. Aku terperanjat dan seketika berhenti. Layar tiba-tiba menyala dan terdengar suara musik sedikit demi sedikit. Aku mengenalinya. Terdengar alunan lagu kesukaanku, You and I yang dinyanyikan oleh Michael Buble. Aku sangat suka lagu ini. Lagu ini membiusku. Aku terpaku pada layar yang menyala. Ada deretan kata-kata dan video di sana. Aku terperana.
"Seketika, aku terlelap bangun. Di kesunyian ini, aku menemukan pelitaku, pelipur laraku. Dia gadis yang kutemui begitu saja - yang tak pernah aku impikan bagaimana wajahnya. Aku terpesona, tersenyum, lalu memandangnya. Ada rona kebahagiaan terpancar di wajahnya. Dia memancarkannya padaku, hingga membuatku memicingkan mata. Sinarnya begitu pekat dan murni. Aku sampai tak bisa menahannya. Kini aku memimpikannya - tiap malam. Tak pernah lupa aku bagaimana dia terakhir tersenyum padaku, marah padaku, kesal padaku, tertawa padaku. Itu semua kusimpan dalam mimpi-mimpiku. Dia benar-benar menembus batas itu. Ruang hati yang telah lama kosong dan lapuk. Dia membawa getar-getar cinta yang dulu sempat berhenti berdenyut. Aku jatuh cinta. Tuhan, kuingin dia hari ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan....selamanya. Tuhan ijinkan aku memintanya menjadi milikku selalu. Menjadi orang yang akan selalu mengisi mimpi-mimpi indahku, yang akan selalu memberikanku denyut kehidupan dan kebahagiaan, serta yang akan selalu menjadi pelitaku, penerang hati. Tuhan, beritahukanlah dia, bisikkanlah padanya, getarkanlah hatinya, dan buatlah dia menerimaku, sang Pemujanya, yang akan selalu menjadi penyemangatnya. Buatlah itu terlaksana hari ini, Tuhan. Terima kasih"
Aku menangis. Air mataku deras mengalir. Aku hampir menangis tersedu, tapi aku tahan.
"Anita....."
Tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku membalikkan badanku, dan tiba-tiba lampu bioskop menyala. Aku melihat sesosok lelaki berdiri tegap memandangku. Dia memandangku penuh arti. Aku mengusap air mataku. Aku menahannya untuk jatuh. Aku benar-benar terharu. Dia berjalan dan mendekatiku. Menyodorkan setangkai mawar merah berpita.
"Ta, maaf ya tadi aku tertidur. Aku tertidur pulas sekali, dan ternyata aku memimpikan kamu tadi. Aku memimpikan saat indah yang akan terjadi saat aku bangun nanti. Dan ternyata itu semua terjadi. Ta, kamu tahu bagaimana perasaanku selama ini sama kamu. Aku mau kamu yang akan menjadi gadis itu. Gadis yang akan selalu mengisi mimpi-mimpiku dan menjadi senyum di hati ini. Jadilah milikku, Ta......"
Aku menggenggam mawar merah tersebut. Aku menangis dan tangisanku bertambah keras. Lantunan lagu You and I masih terdengar, meski tangisanku hampir menutupi lagu itu. Dia menghapus air mataku kemudian memelukku. Tangisku tak berhenti. Aku memeluknya erat. Aku berbicara sambil terbata-bata.
"Kamu - tau ? A-ku kesal sama ka-mu! Aku..a-ku marah. Karena ka..ka-mu tidur lagi hari ini. Aku malu, tau!"
Dia tertawa.
"Maaf ya... maaf. Aku nggak bermaksud."
Tangisku berhenti. Kulepas pelukannya. Aku memandangnya beberapa saat. Aku menghela napas panjang.
"Aku siap menjadi senyum terbaikmu hari ini, esok hari, lusa, dan selamanya. Dan aku akan siap menjadi pelita yang menyinari hari-harimu."
Andra tersenyum bahagia. Dia memelukku erat sambil berucap sesuatu.
"Terima kasih!"
Aku pun tersenyum bahagia.

This story is dedicated for #15HariNgeblogFF, day 5
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

Post a Comment

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.