DAG, DIG, DUG!

Thursday, January 26, 2012

Kantong belanjaanku ternyata banyak dan penuh berisi snack berbungkus warna yang mencolok mata. Tanganku sampai tak cukup memegang erat ketiga kantong belanjaan tersebut. Ketika hendak menerima uang kembalian, aku melihat kembali ke sisi parkir, dan Dina, rekan kerja sudah keluar dan melambaikan tangannya. Memberi isyarat padaku untuk lekas keluar dan kembali ke kantor. Aku mengangguk.

Suasana minimarket siang itu sungguh penuh sesak dengan pelanggan. Antrian kasir pun memanjang dan pelanggan merayap menunggu giliran membayar. Setelah aku menerima uang kembalian, aku sisipkan dompetku di pergelangan tangan sebelah kiri, sementara tangan kananku menggenggam dua kantong belanja. Kesulitanku hanya satu, ketika akan keluar, aku tak mampu membuka pintu.

Ketika aku ingin meraih gagang pintu dengan susah payah, pintu itu tiba-tiba sudah terbuka. Kuamati di depanku ada sesosok lelaki berkemaja garis vertikal, dan aku mengenali kemeja itu. Semakin kuamati ke wajahnya, aku terdiam. Lelaki itu. Aku bertemu lagi dengannya. Dia membukakan pintu untukku.
"Bisa bawanya, mbak?"

Dia berbicara sangat lembut, suaranya memang sama dengan suara lelaki yang kukenal itu. Lelaki yang kutemui di angkutan umum tepat seminggu yang lalu. Kemeja yang dia gunakan pun persis sama corak dan warnanya dengan seminggu yang lalu.
"Oh.. bisa-bisa. Makasih sudah membukakan pintu, ya."
 Aku mengucapkan terima kasih padanya. Dia balas tersenyum padaku. Aku pun melewatinya begitu saja dan bergerak menuju ke parkiran, kulihat Dina sudah memanggilku. Tetapi belum ada lima langkah aku berjalan, lelaki itu memanggilku.
"Hmm.... mbak, sepertinya kita pernah ketemu ya?"
Aku menoleh kembali kepadanya.
"Ah...iya, sepertinya iya. Kita pernah ketemu"
Tiba-tiba jantungku berdekap kencang. Aku menjawabnya dengan lantang. Wajahnya memerah dan senyum mengembang di pipinya.
"Anita, kan? Kita bertemu waktu di angkot malam-malam itu, kan? Aku masih ingat lho.." 
Dia mengingatku, dia mengingat namaku. Aku benar-benar terharu dan senang sekali. Aku pun menjelaskan bahwa aku pun masih mengingatnya. Percakapan kami tiba-tiba terputus. Aku tersentak dengan bunyi klakson mobil yang menggema. Ternyata Dina yang melakukannya. Aku pun berlari menghampirinya dengan membawa tiga kantong belanja sambil berpamitan dengan lelaki itu.

Di dalam mobil, Dina sedikit memarahiku, dan aku pun minta maaf. Tetapi, raut wajahku saat itu sangat senang. Dia pun menyadarinya.
"Kenapa sih lo? Dari tadi senyum-senyum. Cowok itu siapa? Keren juga."
Aku tak menjawabnya. Aku hanya balas dengan senyuman hangat. Kutarik tangan kirinya yang sedang memegang stir mobil, dan kuarahkan ke dadaku.
"Din, lo ngerasain sesuatu? Gue deg-degan Din. Dan gue senang Din, karena kami sudah bertukar nomor telepon."
This story is dedicated for #15HariNgeblogFF, day 2
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

2 comments

  1. aiiihh ini sekuel ya mbanis?? ;)

    ReplyDelete
  2. iya bun.. aku bikin sekuel akhirnya. karena pas liat semua judul, agak menyambung. bagus kalo bisa dibuat sekuel :). thanks for reading!

    ReplyDelete

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.