AKU MAUNYA KAMU, TITIK!

Monday, January 30, 2012

Hari ini entah kenapa aku merasa betul-betul lelah. Pagi tadi jalanan sangat macet, padahal hari ini hari kamis. Aku berangkat seperti biasa pukul setengah tujuh pagi, tetapi baru sampai pukul sembilan lewat lima belas menit. Alhasil aku terlambat rapat lima belas menit dan dimarahi atasan seusai rapat. Seharusnya aku yang bertugas menyiapkan kopian abstrak jurnal yang akan direview saat rapat dan rencananya akan diterbitkan bulan ini. Namun, karena aku terlambat dan kusimpan berkasnya di laciku, rekan kerjaku tidak bisa menemukannya. Mereka terpaksa buru-buru mengkopinya kembali. 

Ya, aku memang salah. Kenapa kemarin sore tidak aku taruh saja berkas itu di atas mejaku, biar bisa terlihat. Aku justru menguncinya di dalam laci. Siang harinya, aku mengajak Dina keluar untuk makan siang. Aku sedang ingin menghirup udara luar karena penatnya pekerjaan. Aku mengajaknya makan di Warung Nasi Jawa di belakang gedung sebelah. Aku sangat suka makan di tempat itu, meskipun tempatnya tidak terlalu luas dan selalu ramai oleh pengunjung. Setiap kali makan di tempat itu, aku jadi teringat oleh Bunda di Semarang. Setiap hari, aku hanya sarapan dan makan seadanya. Maklum sebagai anak perantau yang tinggal di Jakarta, ukuran kepraktisan menjadi salah satu poin penting. Selain cepat dan mudah, makanan praktis juga lebih irit dan tidak menguras saku. Mengingat aku harus pintar-pintar mengelola keuangan untuk tidak lupa mengirimkan uang setiap bulannya kepada keluargaku di Semarang. 

Menu hari ini tidak terlalu menarik, pantas warungnya tidak seramai biasanya. Saat ditanya kenapa warungnya sepi pengunjung, sang pemilik warung, Bu Danu mengaku bahwa beberapa karyawannya pulang kampung. Meskipun demikian, aku tetap semangat makan di warung itu. Selama makan siang, aku sama sekali tak menyentuh ponselku. Aku tinggalkan ponselku di atas meja. Dari tadi pagi aku tak terlalu sering mengirimkan pesan pada Andra. Mungkin karena dia sibuk dan aku pun sibuk.

Selesai makan siang, aku kembali melanjutkan pekerjaanku memilah berkas jurnal yang sudah direview saat rapat tadi. Kulihat ponselku yang tak kusentuh selama aku makan tadi. Ada lima panggilan tak terjawab, dan itu dari Andra. Ada apa dengannya? Kenapa dia sampai menelponku berkali-kali? Apa yang tengah terjadi padanya? Kekhawatiranku muncul. Aku mengirimkannya pesan.
"Andra, tadi telepon? Ada apa? Maaf hp tadi kutinggal di ruangan. Apa ada sesuatu yang nggak beres di kantor?"
Selang lima belas menit, dia menjawab pesanku.
"Oh.. aku kira kau tinggal hpmu di dalam tas, sampai telepon lima kali nggak dengar. Aku sebenarnya cuma mau tanya.... apa kamu ada waktu ketemu nanti sore? Aku jemput di dekat halte bis Shuttle, dekat minimarket. Jam 5 sore? Aku cuma mau cerita sedikit...... Cuma itu kok."
Aku bingung membaca pesannya. Memang kenapa kalau pun cerita banyak. Aku pasti akan mendengarkannya. Mungkin karena dia pikir hari ini aku sibuk jadi dia agak segan membuat aku pulang malam. Aku memang belum bertemu lagi dengannya. Semenjak dia tak jadi datang menjemputku tiga hari yang lalu dan justru mengirimkan sekotak donat Krispy Kreme ke kantor, aku hanya berkomunikasi seadanya dengannya. Sempat dia menanyakan bagaimana rasa donat yang dia kirimkan itu, aku cuma bisa tertawa geli atas tingkahnya yang lucu namun romantis itu.

Pukul 16.50. Tak terasa karena padatnya pekerjaan hari ini, waktu seakan tengah berlari. Aku pun siap-siap untuk pulang dan menemui Andra. Kubereskan beberapa berkas. Tumpukan jurnal itu aku biarkan tersusun rapi di atas meja. Saat akan mengunci laci, tiba-tiba atasanku memanggilku.
"Nita, bisa ke ruangan saya sebentar?"
Aduh, ada apa ya? Jangan sampai atasanku memberikanku pekerjaan tambahan dan menyuruhku untuk lembur. Aku sudah janji pada Andra, akan datang tepat waktu. Jarak tempat kami bertemu dengan kantorku tidak terlalu jauh, hanya 10 menit berjalan kaki. Aku pun masuk ke dalam ruangan atasanku. Dia menyuruhkan untuk mereview kembali salah satu jurnal mengenai kesehatan lansia. Dia menerima kiriman email dari salah satu anggota reviewer bahwa jurnal tersebut perlu dikaji ulang sebelum diterbitkan. Aku pun menghela napas panjang. Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaanku ini dan bergegas menemui Andra.

Andra sudah mengirimkan pesan, menanyakan dimana aku karena sudah 20 menit belum tiba. Dia sudah ada di halte itu. Aku pun membalasnya, memintanya menunggu 15 menit lagi. Aku coba melihat kembali isi jurnal itu sambil melihat salinan email dari salah satu reviewer itu. Ternyata ada banyak kesalahan yang perlu diperbaiki. Aku tak yakin dapat memperbaikinya dalam waktu 10 menit. Selang tak berapa lama, aku mengirimkannya pesan lagi.
"Andra, maaf sepertinya aku nggak bisa temui kamu sore ini. Ternyata pekerjaanku ini masih agak lama diselesaikan. Mungkin aku bisa sampai malam di kantor. Bagaimana kalau kita ketemu besok saja, atau sabtu depan? Ada film bagus minggu ini, kita nonton lagi yuk!"
Aku terdiam. Kuhentikan pekerjaanku dulu sampai aku menerima balasannya. Aku tak tahu apa yang ingin dia ceritakan. Mengapa dia sangat ingin membicarakannya hari ini? Tak lama balasan itu pun datang. Apa yang aku pikirkan ternyata benar.
"Nggak.. nggak bisa aku tunda. Aku benar-benar ingin membicarakannya hari ini juga. Aku nggak apa-apa nunggu kamu sampai kamu selesai, atau apa kamu bisa mampir sebentar ke sini? Cuma sebentar...."
Dia benar-benar memaksaku untuk bertemu. Konsentrasiku pecah. Aku tak lagi bisa berpikir. Aku pun tak bisa melanjutkan pekerjaanku itu. Aku terdiam, bingung, dan lamunanku datang. Ada apa ya? Apa dia akan pindah kerja besok sampai dia memaksaku bertemu hari ini juga? Aku kesal. Aku bingung apa yang harus aku perbuat. Tiba-tiba suara memanggil di kejauhan. Ternyata suara bosku.
"Saya baru saja dapat telepon. Jurnal itu perlu dibahas besok pagi. Jadi tolong kamu selesaikan malam ini juga, besok harus sudah siap dibahas lagi dalam rapat. Maaf, jika kamu harus lembur. Ini sudah deadline karena akan terbit minggu depan. Tolong ya..."
Aku pun hanya mengiyakan permintaan atasanku tadi. Sekarang aku makin bingung. Aku hanya takut Andra masih menungguku di halte itu. Kuintip di jendela, hari sudah semakin gelap, dan sepertinya akan turun hujan. Aku tidak bisa membiarkan dia menunggu lama di sana.
"Andra, kamu pulang aja ya. Hari makin gelap dan sepertinya akan turun hujan. Besok aku janji aku akan temui kamu, pas makan siang. Aku benar-benar nggak enak sama kamu. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini. Bosku menunggu. Maaf..." 
Aku kirimkan pesan padanya memintanya untuk pulang. Kuharap dia mau menurutinya dan menunda pembicaraan sampai besok. Kutunggu balasan darinya tapi tak muncul-muncul. Selama aku membaca jurnal itu, aku mengintip ponselku, apa ada pesan masuk. Dia belum membalasnya juga.

Tepat jam tujuh aku menyelesaikan pekerjaanku itu. Aku bergegas melaporkan berkas jurnal tersebut kepada atasanku, dan mengkopinya sebelum aku menyimpannya di atas meja. Kulihat ke luar hujan sudah turun. Untung saja hari ini aku membawa kendaraan. Jadi aku tak perlu berhujan-hujanan saat pulang nanti. Andra belum juga membalas pesanku. Apa dia sudah membacanya dan melakukannya ya? Apa dia sudah pulang sekarang? Baterai ponselku sudah menipis, aku tak bisa menelponnya untuk menanyakan kabarnya. Dan parahnya lagi, tadi itu adalah pulsa terakhirku. Karena aku penasaran, aku pun sengaja melewati halte bis tempat kami janji bertemu tadi. Hujan turun makin deras, dan jalanan sudah cukup padat. Samar-samar kulihat halte bis itu sudah sepi. Bis shuttle memang terakhir beroperasi jam 6 sore, jadi tidak mungkin ada lagi penumpang yang menunggu di halte itu. Hanya beberapa orang yang berteduh di halte tersebut. Semakin kulewati halte itu, aku melihat sesosok lelaki lusuh yang duduk sendiri, memegangi tas di pangkuannya. Aku mengenalinya seperti sosok Andra. Aku pun berhenti dan turun dari mobil untuk memastikan.
"Andra.....! Andra....!"
Kupanggil lelaki itu, dan dia menoleh.
"Ya ampun... Andra! Kamu ngapain di sini? Jadi dari tadi kamu menunggu aku di sini? Dua jam? Aku kan sudah sms kamu untuk pulang. Aku pikir kamu benar-benar akan pulang..."
Dia terlihat pucat, mungkin dia sedikit masuk angin karena lama menunggu di luar.
"Tadi pulsa terakhirku Ta, aku nggak bisa memberitahu kamu lagi kalau aku masih di sini...."
Ya ampun, ternyata dia sama denganku. Aku pun sudah tidak punya pulsa, makanya aku tak bisa menanyakan apakah dia jadi pulang atau tidak.
 "Aku juga Ndra.. Itu juga tadi pulsa terakhirku. Aku pikir kamu akan pulang. Andra, maafin aku ya. Aku sudah membuat kamu menunggu. Aku benar-benar min..ta....."
Dia tiba-tiba memotong ucapanku.
"Aku dijodohkan, Ta. Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku....."
Aku terdiam, terpaku mendengar pengakuannya. Aku bingung mau berucap apa. Ketika aku akan sempat mengeluarkan kata, dia kembali sudah memotongnya, dan dia mendekatiku.
"Tapi aku nggak mau. Aku nggak setuju dijodohkan. Sudah lama, aku diam dan memikirkan ini, sampai aku bertemu denganmu, Ta, dan memutuskan untuk tidak menyetujuinya. Aku sekarang sudah punya alasan untuk tidak ikut ke Bandung minggu besok. Itu karena kamu... Aku.... hanya mau kamu. Kamu, Ta...!"
"Ke Bandung? Minggu besok? Kamu akan dijodohkan?"
Akhirnya aku bisa juga bicara. Aku tak percaya dia berkata itu. Jadi pembicaraan singkat inilah yang ingin dia beritahukan padaku? Aku terharu dan rasanya ingin menangis, tapi tak tepat rasanya jika aku melakukannya saat ini. Di satu sisi, aku sedih, ternyata dia sudah lama dijodohkan oleh orang tuanya, jauh sebelum dia mengenal aku. Tetapi di sisi lain, aku bahagia, karena pernyataannya untuk memilihku.
"Iya, orang tuaku mengajakku untuk menemui orang tuanya dan membicarakan kelanjutan perjodohan ini. Aku selama ini hanya diam, karena aku tak punya cukup alasan untuk menolaknya. Sekarang aku memilikinya. Aku memiliki alasan itu. Dan itu karena kamu.. Kamu, Ta...!"
Aku bahagia. Selama ini aku tak pernah membayangkan akan menerima pengakuan seperti itu dari lelaki yang aku suka. Dia memandangku, menatapku. Aku tersenyum. Tak lama dia pelan-pelan mendekapku. Dia memelukku dengan erat seolah tak ingin melepaskanku. Aku pun demikian - memeluknya dengan erat. Di dalam dekapan itu, aku tersenyum dan berkata.
"Aku juga hanya ingin dirimu, Ndra. Hanya kamu...."

This story is dedicated for #15HariNgeblogFF, day 4
author image

ABOUT ANISSA

Anissa is a researcher and lifestyle blogger living in Jakarta. She writes mostly about her passions, which range from travelling, blog tutorial, study tips and her favourite homemade recipes!

Post a Comment

Follow My Instagram

© A Little Bit of Nisa. Design by Fearne.